
Entah, berapa hitungan kedzaliman aku perbuat..
Nyatanya, masih dan masih saja aku lakukan, aku tak mampu
mencegah darah gilaku dan aku tak bisa lari dari hembusan itu…
Kecil dan selalu dianggap kecil, padahal ia adalah Besar
bahkan teramat sangat membesar, saking beraninya aku mengecilkan dia…
Remeh dan selalu aku anggap dia remeh, padahal berbahaya dan
membahayakan semuanya dan segalanya
Dan kini, hanya tersisa bait bait penyesalan tanpa arti,
yang selalu dikumandangkan setiap pagi, namun kala mentari menyapa manis, aku
kembali terbuai dan jatuh kembali, duhai nikmat nian… hingga tak teringat
kembali tangis lara penyesalan.
Pernah suatu saat, aku hujamkan bait kata sumpah serapah
mengutarakan sesal dan tangis, di pusara yang mulia, namun itupun tak
berlangsung lama, hanya sekedar dan sekilas, namun akhirnya.. lagi dan lagi
masih ku lakukan lagi.
Seutas senyum manis ini, ternyata tersimpan jutaan rintihan,
penuh kemaluan, isin, sungkan bahkan memalukan…
Maafkan dan maaf…
Aku hanya bisa bicara dan berusaha, agar tangis
ini bukan sekedar dongeng Klasik, namun betul-betul sebuah lembaran baru.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar