SELAMAT DATANG

Assalamu'alaikum Warahmatullohi Wabarakatuh

Selamat datang para pengelana dunia maya.
Selamat datang diduniaku, dunia sederhana yang dipenuhi dengan kebebasan dalam berekspresi,
namun tetap mengedepankan Ahlaqul karimah,
tanpa takut oleh tekanan dari manapun, dan jauh dari diskrimininasi budaya, hukum, martabat, derajat dan pangkat.

Ini adalah suara murni hatiku,
yang terangkai dalam dalam bentuk kata-kata,
entah jelek entah bagus, namun inilah aku yang jujur dalam berfikir dan berkata.

Moga ada guna dan manfaatnya

Amin Amin Ya Robbal Alamin

Rabu, 27 Oktober 2010

Mbah Maridjan


Tokoh Fenomenal Mbah Maridjan Wafat

Selasa, 26 Oktober 2010

TERNYATA ISLAM BUKAN HANYA MILIK FPI

Kritik ringan bagi kelompok Islam Fundamentalis

Dewasa ini, ketentraman dan suasana kondusif pada beberapakota besar di indonesia, mulai terusik kedamaianya,seiring dengan hadirnya sifat arogansi dan keras dari sekelompok komunitas masyarakat yang mengaku sebaai penyelamat agama islam, komunitas inibernama FPI(Front Pembela Islam).
Tidak ada informasi komplit tentang keberadaan komunitas ini, namun satu benang merah yang dapat kita ambil dari kelompok pimpinan Habib Riziq ini.mereka hadir sebagai kelompok garis keras pembela terhadap norma noma dan kehormatan agama Islam. Tindakan mereka pun terglong nekad dan brani, terbukti pada bulan romadn kemarin entah berapa buah bar, discotic, tempat judi, biliyard dan bahkan restoran, yang telah dihancurkan kelompok ini dengan cara merajia semua tempat-tempat yang mereka anggap penuh dengan kemaksiatan, dan dengan dalih demi menghormati bulan suci romadon dan menyelamatkan agama islamdan negara indonesia dari kemaksiatan yang semakin merajalela di masyarakat akhir akhir ini. Mereka memporak porandakan setiap benda yang mereka anggap sebagai barng maksiat.
Sebagai umat islam sebenarnya kita merasa bangga dan bahagia, karena telah hadir sekelompok penyelamat kehormatan dan harkat martabat agama islam. Dimana, saat ini di mata internasional, dewasa ini agama islam sering dipingirkan keberadaanya, karena perbuatsan beberapa teroris yang telah mengoyakkan berbagai belahan dunia. Terlebih lagi pasca runtuhnya menara kembar WTC di new york Amerika serikat, mereka (baca; FPI) hadir dan seolah olah mengobati kerinduan kita terhadap masa pemerintahan masa Nabi dan khulafaa Urrosidin berkuasa, dimana saat itu hukum diterapkan betul betul optimal dalam setiap persendian kehidupan bernagara dan berkeluarga, dan saat itulah satu masa, dimana maksiat adalah musuh besar yang wajib dijahui dan dihindari adanya.
Namun apabila kita berkaca pada “kitab suci” negara indonesia yang bernama UUD 45, hati kita pasti timbul sebuah kejanggalan dan tanda tanya besar, pantaskah kita sebagai warga indonesia yang baik, membiarkan sebuah kelompok kecil masyarakat merusak dan menghancurkan fasilitas pribadi atau kelompok milik orang lain.? disinilah timbul sebuah dilematisasi bagi kelopok masyararakat yang lain, apakah mereka berpihak kepada FPI degan jalan membiarkan mereka menghancurkan fasilitaas, baik umum maupun pribadi, ataukah mereka berpihak pada pemilik bar, discutik biliyar dan lain lain. ysang tentunya jelas jelas mereka melakukan kemaksiatan apalagi di bulan suci romadlon yang sangat dihormati umat islam.
Sebasai langkah perventif, sudah seharusnya kita sebagai generasi muda umat islam, mengantisipasi gejolak yang kerap kali terjadi di masyarakat, seprti kasus di atas. Tentunya kita memahami dan mengerti, bahwa tindakan dari FPI tersebut adalah sebuah upaya secara fissik untuk melawan kebatiln yang semakin tak ter kendali. Namuun sayang persepsi yang timbul di masyarakat yang dapat kita ambil adalah justru perilaku dan tindakan mereka seakan akn memunculkan sifat egoisne pribadi yang sangat tiggi, dan amat terkesan sangat eksklusif, mementingkan kepentingan diri dan kelompoknya, dan yang lebih parah adalah seakan akn islam hanya milk FPI dalam arti kata bebas, mengaku sebagai pihak yang paling benar diantara komunitas/ kelompok muslim yang lain tanpa mencoba berdialog dan berdiskusi dengan pihak pihak yang terkait dengan permasalahan yang timbul.
Bahkan jarang tindakan ini berujung pada kerugian baik fisik maupun materi pada pihak-pihak tertentu,
Seperti hilangnya mata pencaharian bagi mereka yang menggantungkan pekerjaannya di tempat tersebut, bahkan ada yang terluka berat karna dianiaya beramai-ramai pada saat razia berlangsung.
Sebagai solusi, terdapat sebuah langkah antisipasi dini yang mungkin efektif apabila diterapkan secara optimal diantaranya adalah:
Pertama: sebagai organisasi islam, sudah seharusnya, FPI mengedepankan akhlakul karimah kepada kelompok-kelompok lain dimasyarakat, khususnya masyarakat non muslim demi menciptakan perdamaian, dengan jalan melakukan dialog terbuka dan diskusi bebas dangan pihak-pihak terkait, untuk mencari solusi yang terbaik tanpa harus menggunakan kekerasan fisik guna menyelasaikan suatu permasalahan.
Kedua: menghimbau semua elemen yang dirasa berperan aktif dalam permasalahan tersebut untuk senantiasa menghormati pada semua perkara yang urgen disakralkan oleh umat islam khususnya di bulan suci Ramadlan.
Ketiga: mengadakan konsultasi dengan pemerintah, sebab sebagai penguasa yang memfasilitasi ragam kebutuhan rakyat sudah barang tentu pemerintah paham dengan kondisi masyarakat di daerahnya dan disitulah akan timbul sebuah kesepakatan bersama guna menciptak kedamaian yang kondusif, aman dan terkendali bagi masyarakatnya.

Penulis adalah Arief Nur kelas 1 Aliyah, J.13 Hp. Malang


Tulisan ini dimuat di Mading Hidayah tahun 2006

Selasa, 19 Oktober 2010

Istiqomah Atau Tak Berubah


Bilik Djiwa 20 Okt

Inspirasi yang terbunuh, mungkin kilas kalimat itulah yang tepat bagiku, tak ada celah untuk mencoba bangkit dan membangkitkan asa, padahal nun jauh disana perubahan telah bergeliat, mengapa tidak mencoba barang sebentar saja... mungkin dengan perubahan ini kita akan menemukan format yang bagus demi meningkatkan kwalitas rumah yang kita cintai ini, mengapa tidak kita gunakan senjata yang ada untuk membuat alat-alat baru yang lebih indah dan mencari makanan baru yang lebih lezat. Mengapa kita mesti takut senjata akan melukai, jika kita memang faham dan mengerti penggunaannya.

Bagaimanapun perubahan dan pembaharuan harus kita ikuti, jangan hanya terkungkung pada sebuah pemahaman yang sempit dan egois. Justru seharusnya kita mencoba mengimbangi daya saing dengan apa yang kita punya. Tapi jangan memberangus semua perisai kita, sebab justru dengan perisai itulah kita menjadi beda dengan mereka. Baju boleh bersarung dan berkoko, namun pemikiran intelek harus kita punya.

Ilmu boleh Salafi tapi sistem harus modern,...
Marilah kita coba mengaplikasikan data base dalam pendataan,
Menerapkan komputerisasi dalam pembayaran,
Secara online dalam informasi....
Agar kelak rumah besar ini tidak hanya menjadi bangunan sepuh yang penuh dengan sejarah, tapi juga menjadi kawah bagi lahirnya insprator muda, Intelek pesantren yang handal dan Organisatoris yang tangguh.

Imam ghazali berkata : Jika rumahmu dekat dengan sungai maka ajarkanlah ia berenang agar ia tak tenggelam esok hari, jangan malah engkau takut-takuti.
Jika hidupmu memasuki zaman teknologi coba pahami dan mengerti, agar kelak engkau tak terjebak dan tertipu lagi.

Khidmah dan istiqomah adalah konsekuensi
Namun inspirasi jangan pernah berhenti...

Ngapunten.....
Aku terlalu cinta kamu lirboyoku...

Rabu, 06 Oktober 2010

TAUBATAN NASUHA


Entah berapa banyak dosa yang telah aku lakukan, dan sekaligus betapa besar dosa yang telah aku perbuat, namun tetap saja rasa hati ini nyaris tanpa penyesalan, padahal sudah teralu besar dan memalukan aku dan keluargaku...
sebetulnya aku sangat tidak layak dikatakan sebagi seorang santri bila aku ingat kembali betapa banyak dosa yang aku lakukan.
Ya Allah gusti, andai waktu bisa terulang, ingin rasanya aku hentikan semuanya agar tak lagi menjadi penyesalan sesaat..
Ya Allah tuhanku bukakanlah pintu hati ini, agar dosa-dosa yang lalu dapat jenengan ampuni, dan aku tak melakukannya lagi...
berikanlah petunjukMu, agar hidup ini tak lagi dalam bayang-bayang dosa yang teramat menyiksa.

Allahummaghfirli alaa kuli dzunubzi...
Hapus semua dosaku ya Allah....

Rabu, 26 Mei 2010

JALAN TERJAL MENUJU PERUBAHAN

Meski berat dan sangat terasa berat, tapi akan ku perjuangkan bentuk dan model LIrboyo yang lebih dinamis, kuat dan moder. Tanpa harus mengesampingkan tatanan yang ada, semua harus berjalan dengan seimbang.

Meski ini mendapat tentangan dari banyak pihak namun kuyakin aku akan berhasil ... amin

Jumat, 23 April 2010

SUKSES UNTUKMU WAHAI ADIKKU


Hari ini merupakan hari yang besejarah bagi keluargaku, adikku M. Lukman SH akan meninggalkan kampung halaman untuk mengemban amanat dari Negara, angan dan cita-cita yang selama ini ia bangun dan angankan telah ada digenggaman tangan, selangkah lagi ia akan menjadi sosok yang dibanggakan oleh keluarga sederhanaku.

Meski kepergiannya untuk menyongsong tugas dan tentunya akan membanggakan bagi keluarga, namun aku yakin ibu masih diliputi rasa cemas dan rasa rindu yang mendera, sebab selama ini adikkulah yang dekat dengan ibu, memahami bahasanya dan bisa membimbingnya. Itulah salah satu alasan aku tidak ingin pulang walaupun hanya sekedar untuk mengucapkan selamat jalan kepada adikku, sebab aku tak mau larut dalam kesedihan karena melepas keopergiaannya tuk capai cita-citanya yang mulia.

Do'aku akan selalu menyertaimu dik, semoga tercapai apa yang selama ini kau inginkan dan apa yang selama ini kau banggakan.

Untuk Adikku tersayang M. Lukman SH.

Senin, 29 Maret 2010

DI USIAKU YANG TIGA DASAWARSA

Dasawarsa ke 1
Pada fase inilah, aku mulai bisa menerjemahkah bahasa dan tulisan, dengan bimbingan khas orang tuaku, awalnya aku merasa, beliau berdua bagaikan dua orang algojo yang kejam nian, menghajar, mendamprat dan menyiksa diriku, Pengawasan yang berlebihan terkadang membuat aku jenuh dan berontak, namun aku tak sadar jika sebenarnya itulah tameng dasar yang bapak dan ibu berikan.
Pada saat-saat itulah, aku belajar kehidupan secara dasar kepada lingkungan sebayaku, meski aku rasakan kesederhanaan (bahkan mungkin bisa dikatakan miskin materi) dalam kehidupanku, namun aku tak sadari, bahwa kelak itulah gemblengan awal untuk mencapai predikat mandiri.

Dasawarsa Ke 2
Dalam fase kedua ini, layaknya insan muda yang sedang dirundung asmara, hari-hariku banyak dipenuhi puisi-puisi roman dan kata-kata pujian bagi sang dambaan. Aku terlalu polos dalam berfikir dan terlalu jujur dalam berkata, hingga suatu ketika aku terjerembab jatuh dalam kubangan putus asa, butuh waktu lama untukku agar bisa bangkit lagi, sungguh sakit kala aku ingat saat itu.
Dalam fase inilah, aku mulai benar-benar bangun dari tidur panjangku sebagai manusia, hal ini berawal kala sang penuntun jiwa yang bernawa Ustad Nuryatim, pergi untuk selama-lamanya, bapak wafat dalam usia 54 tahun, usia yang sangat muda untuk meninggalkan aku, disaat aku masih benar-benar butuh pituturnya. Namun dibalik hijrahnya bapak, aku temukan hikmah besar... aku bisa mandiri.


Dasawarsa ke 3
Fase inilah, aku benar-benar bangkit!
Dimulai dengan hijrahku ke Ma'had super agung bernama Lirboyo, awalnya sangatlah berat bagiku untuk memulai hidup baru yang serba mandiri ini, penuh penderitaan dan penyesalan, kok ga dulu-dulunya aku berangkat mondok. meski terengah-engah dengan kondisi otak yang dibawah rata-rata ini, aku tetap berusaha merangkak bahkan tiarap, untuk dapat mengejawentahkan bahasa kehidupan ini, agar Kehidupan bisa dinamis dan seimbang dengan ilmu addin...
Satu hal pasti, disinilah aku bisa betul-betul mandiri bahkan aku bisa menemukan Jatidiri, Kepemimipinan, norma kesopanan dan entah apalagi yang bisa mewakili kata-kata syukurku atas keberadaanku sekarang ini, mungkin jika gusti Allah tak menunjukkan jalanku di Lirboyo ini, hari-hariku hanya dipenuhi gelak tawa di pojok-pojok perempatan jalan dengan Botol Whisky ditangan kiri dan lintingan ganja di tangan kanan.... Matur suwun sanget Lirboyo, mungkin nyawaku sekalipun, tak akan bisa membalas budi jasa yang telah tersematkan.
Dan kini tepat di usiaku yang benar-benar separuh dari seluruh perjalananku ini, dan dengan semua yang aku miliki sekarang ini, hanya satu yang aku harapkan, mugo-mugo uripku tansah Barokah, tak lebih. Sebab dengan semua yang ada didepanku saat ini, keluarga, harta, Posisi dan teman, sungguh amat sangat sudah lebih dari cukup...
Mugo-mugo, hidupku bukan menjadi benalu dan songgok daging tanpa ruh layaknya seorang pecundang, namun mampu menjadi pelita bagi ibuku, kakak dan adikku, teman dan pastinya Guru-guruku. Semoga barokah Amin......

Sabtu, 13 Maret 2010

PERKENANKAN AKU MATI


Entah dihari ini, mengapa segalanya terasa gelap bagi mataku, aku bagai hewan yang tak ada guna dan manfaat, aku hanyalah benalu yang tak lebih berharga dari seonggok daging anjing. Aku hanyalah sampah bagi pondokku yang agung ini, aku hanyalah membawa aib bagi keluargaku, aku hanya mampu bersuara tanpa bisa melakukannya

Duh gusti, perkenankanlah hambamu ini hijrah dari dunia yang benar-benar fana ini menuju dekapanmu yang maha suci dan tanpa lagi harus menanggung beban hati, pikiran, dan perasaan. Hambamu yang bodoh dan hina ini tak ingin lagi tersiksa dalam dosa yang memuncak, hamba tak lagi sanggup untuk berbuat dosa lagi, hamba tak mau lagi beribadah dengan kebusukan dan kebohongan lagi, hamba menginginkan kebahagian yang haqiqi. tanpa harus menggung beban hidup yang tiada tara berat dan rasanya.

Ya Allah tuhan yang maha sempurna hamba memohon kepadamu, jika hidup hamba kelak tak lebih baik dari hari ini, hamba mohon renggutlah nyawa hamba agar tak lagi dosa bertumpuk dan bertumpuk lagi, namun jika hamba kelak dapat hidup dengan beribadah secara kaffah, maka perkenankanlah hamba untuk betul-betul hidup untuk memulyakan agama yang engkau ridloi….

Senin, 15 Februari 2010

MENGAPA AKU TAK BISA MELUPAKANNYA


Sedari awal aku sudah ragu, akankan aku mampu untuk meniadakan bayangannya dalam nafasku, sosok polos dan tak berdosa, dan benar-benar mengharapkan sekaligus merindukan kehadiranku. Aaahh… ternyata sulit dan teramat sulit bagiku untuk melupakannya begitu saja, dia terlalu baik untuk di tinggalkan, dia terlalu jujur untuk aku tipu dan dia terlalu polos untuk aku jamah….

Aku bingung… harus bagaimana dan kemana, nafas cinta yang berhembus, akankan senyap lagi? Bait-bait cinta yang aku dendangkan akankah berubah menjadi lolongan penuh kesedihan?

Oalah gusti…… hambamu yang picik dan naïf ini tak sanggup berkata jujur, hambamu yang benar-benar bodoh ini ta sanggup menelaah kehidupan. Masih saja terjerumus dalam jurang kealpaaan....

Oalah gusti….. Haruskah aku kianati cinta suci ini dan bersimpuh dihadapan ibu lantas berujar “sendiko dawuh ibu…” ataukah justru harus sebaliknya aku lari dengan cintaku dan bermukim didunia antah berantah namun dengan berteman laknat dan hujat sang bunda….
Oalaaah embuuuh….

Aku bagaimana dan harus bagaimana…

www.mumet.com

Minggu, 07 Februari 2010

MUGO-MUGO SELAMET


Siang tadi, ada kasus besar yang terungkap dalam pondok pesantren LIrboyo, sebuah penyalah gunaan wewenang oleh salah seorang pengurus pondok, untuk kepentingan pribadinya. singkat cerita, awalnya pengurus itu adalah keamanan pondok yang mempunyai akses untuk masuk kesemua lini termasuk pondok putri, nah yang disayangkan adalah, justru keamanan tersebut menggunakan amanah yang telah lama disematkan di pundaknya tersebut dilanggar dan ia justru mempersilahkan orang lain, yang nota bene bukanlah muhrim, masuk kekawasan steril tersebut. yang bikin miris hati selain pasangan yang bukan muhrim tersebut bersua, namun pasangan itu juga melakukan hubungan yang diharamkan, terbukti dari foto pribadi yang terpampang di hapenya, ada foto berdua yang tidak berbusana. masya Allah...

Hatiku langsung membeku, sekilas apa yang selama ini aku lakukan nyaris sama dengan apa yang dilakukan oleh sejawatku tersebut, meski aku tak separah yang dilakukan oleh keamanan dan pasangan bukan muhrim ini, namun aku telah mengirimkan salam padanya, menerima surat darinya. Mungkin merupakan sebagian dari dosa besar yang telah aku lakukan kepada kyaiku.

Kepercayaan yang aku sandang, dari beliau, ternyata aku mengkhianati beliau, amanah dari para masyayikh telah aku telantarkan, sungguh hina dina diriku... mengapa tega aku mengkhianati beliau, sungguh bodoh aku mengapa berani menipu beliau, padahal beliau begitu tulus mendoakan kita, merawat kita dan menyayangi kita...

Ya allah muga paring kawulo keslametan saking fitnah dunyo, fitnah akhirah ugi fitnah Kabirotul Zinna...
salimna ya Rabbb...

Minggu, 24 Januari 2010

BELIAU BERNAMA KYAI KAFABIHI

Santun dan dan bersahaja, itulah sosok Kyai Haji Abdulloh Kafabihi Mahrus, salah satu masyayikh Lirboyo yang sederhana dan istiqomah dalam menjalankan ibadah. Meski status beliau sebagai salah satu pengasuh Pondok sebesar Lirboyo, hal itu tidak lantas membuat beliau mejadi tinggi hati dan congkak, namun justru kebalikannya, beliau malah tawadlu sederhana dan bersahaja, hal ini terbukti tatkala ada santri yang sekedar sowan dan bersilaturohmi kepada beliau, maka sisantri tersebut bakal mendapatkan perlakuan sama seperti tamu-tamu umum lainnya, sehingga mayoritas para santri akan merasa sangat hormat kepada beliau.

begitu juga dengan aku, kala suatu ketika aku diberi kesempatan untuk dere'ne beliau, disitulah aku mendapatkan kesempatan untuk mengenal beliau lebih jauh, karakter keluarga beliau dan juga kritik beliau terhadap para santri. meski beliau sudah mempunyai derajat sekelas masyayikh namun beliau masih saja meminta pendapat seorang cecunguk bernama arif Noer ini, padahal aku hanyalah manusia hina dan tak sepadan dengan kemulian dan keagungan derajat beliau, namun dengan santun beliau tetap mendesak, meminta masukan dan ide-ide tentang keluarga dan pondok yang diasuhnya.

Satu lagi hal yang tak akan dan tak akan pernah aku lupa, yakni kala usai menempuh perjalanan jauh menuju kampung halaman, padahal rasa lelah dan kantuk tlah menghinggapi kami bertiga, namun beliau berkenan menyiapkan hidangan dengan tangan beliau sendiri....

ya Alloh mugi paring kesihatan lan kesaenan kagem guru kulo Kayi Haji Abdulloh Kafabihi Mahrus dan segenap kyai kulo wonten Ma'had Lirboyo....
Amin..

Selasa, 12 Januari 2010

TIGA HARI BERSAMA SANG MAHA GURU


Beberapa hari yang lalu, baru saja aku reguk anugerah tertinggi dalam levelku sebagai santri dengan kapasitas otak yang lumayan rendah, yah... aku dengan segala keterbatasan ku ini, dipercaya oleh beliau Hadlrotus Syaikh Romo KH. M. Anwar Manshur, untuk aku derekkan, selama tiga hari itu aku bisa melihat dengan mata kepalaku sendiri betapa welas dan asihnya seorang Mbah Yai Anwar, padahal dengan kondisi beliau yang sudah sepuh, beliau masih kuat untuk menyapa dan melayani permohonan dari para alumni yang bermacam-macam.

Beliau begitu santun untuk menyapa dan menuruti semua permohonan segenap Alumni, selama tiga hari itu, aku merasakan kepayahan yang luar biasa dalam tubuhku, tulang-belulang terasa terkoyak dan kelelahan yang teramat sangat, peluh ini kadang menetes mengalir tanda betapa lelahnya diri ini. Namun hal ini ternyata tak berlaku pada beliau Mbah Yai Anwar, beliau tampak sehat segar dan bugar, tanpa sedikitpun merasa lelah dan sakit, beliau ikuti semua agenda kegiatan Turba Himasal tersebut sampai tuntas, meski aku rasakan jadwalnya mbulet dan ruwet. Namun dengan ringan beliau hanya bilang “biarlah ini semua menjadi hikmah bagi kita semua”

Sejenak, mari kita flash back kebelakang, membuka kembali serpihan memori yang tersisa dari otak mungilku, sebuah memori hina dari pandangan sempitku, sebuah memori yang memperlihatkan betapa hina aku, sehingga aku hanya melihat beliau hanyalah seorang keras dan disiplin dalam bertindak, tanpa aku lihat sisi lain dari kehidupan beliau. Aku hanya melihat beliau hanya dari sudut pandang emosional saja, tanpa aku lihat sisi keagungan seorang Mbah Yai Anwar. Aku hanya melihat seorang pribadi yang congkak dan lugas dalam berbicara, tanpa aku ketahui apa yang beliau lakukan tatkala malam menjelang, dan tanpa aku ketahui betapa istiqomah beliau mendekatkan diri pada Gusti Allah Swt.

Namun lambat laun tatkala aku lihat secara rinci dan bertahap, ternyata pandanganku terhadap Mbah Yai Anwar sungguh-sungguh sangat amat beda, disinilah aku mulai bisa singkap tirai yang selama ini menutupi wajahku, aku mulai bisa memandang dengan mata hati dan bukan dengan emosi, beliau ternyata orang yang konsekuens dengan perkataannya, orang yang welas dan luhur budi pekertinya, orang yang mengerti dengan keadaan dan situasi disekitarnya, dan entah kata-kata apa lagi yang bisa menggambarkan betapa sempurna sosok KH. Anwar Manshur.

Dari sini aku hanya bisa berdo’a dan berharap dengan segenap hati semoga, dan semoga diri ini aku selalu diakui sebagai santri beliau, meski tak banyak nasehat dan petuah beliau yang aku lakukan, salah satunya adalah kemempengan. Mungkin dari dari kesalahan yang pernah aku lakukan, namun dengan permohonan yang betul-betul muncul dari sanubariku aku memohon kepada sang khalik agar aku kelak dipertemukan kembali dengan beliau dalam surganya.

Kantor Al-Muktamar 06 Januari 2010 sore Hari

Selasa, 22 Desember 2009

MEMAHAMI KATA MENIKAH DENGAN HATI

Lirboyo(22/12)
Tepat di peringatan hari ibu, aku mendengar informasi dari sahabat baikku semasa sekolah dilirboyo dulu, bahwa Pernikahan yang telah ia rajut bersama dengan seorang wanita yang usianya lebih tua darinya kni dalam ambang kehancuran, dia merasa sangat tertekan seakan dalam penjara yang dibangun sang mertua, padahal dalam biduk rumah tangga, seharusnya yang ada adalah adanya komunikasi dua arah yang menjadi satu, sehingga terbitlah harmoni keindahan dalam cinta. dalam masalah Temanku ini, dia lebih diposisikan sebagai pelayan ranjang saja, ketimbang menjadi imam dalam keluarga, kalaupun toh ia bisa bebas paling-paling ia hanya akan menjadi ustad keliling yang tidak jelas pendengarnya.

Penderitaan ini bermula tatkala ia secara sepihak dipaksa kawin oleh orang tuanya, dengan wanita yang sama sekali tidak ia kenal, konon kabarnya wanita mandiri ini adalah seorang ustadzah di desanya yang mempunyai penghasilan lebih dari cukup, namun yang sangat membuat dia menjadi miris adalah raut muka wanita yang akan menjadi pendamping hidupnya itu, ternyata wajahnya tak sesuai dengan batas minimal wanita pujaannya artinya wanita tersebut wajahnya lumayan jelek. namun apalah daya ini adalah amanat orangtua yang harus dan wajib dilaksanakan, maka dengan gontai ia langkahkan kakinya menuju tempat aqdun nikah yang menurutnya lebih pantas dikatakan sebagai neraka.

Hari berganti hari mingu dan bulanpun secara bergantian telah beranjak meninggalkan putaran sang waktu. Kala usia pernikahan menjelang tahun ketiga, mulailah nampak ketidak harmonisan keluarga kecil ini, saling bentak dan umpatan kata-kata kotor seperti menjadi santapan tiap hari, padahal mereka adalah publik figur. dimana setiap kata dan kerja mereka adalah sebuah panutan bagi semua orang.

Nah disinilah konsep pernikahan yang betul-betul matang harus kita tata sedini mungkin, jangan sampai kita salah kaprah dalam merangkai kata pernikahan agar tidak ada penyesalan dimasa mendatang, pilih bobot bebet dan bibitnya, jangan asal abs (asal bokap seneng) terus menikah.

Semoga kita dapat yang terbaik...
Di dunia maupun juga di akhirat amin

Tulisan ini aku dedikasikan buat temenku Kang Nashiruddin Rembang
***

Selasa, 15 Desember 2009

POLITIK PESANTREN

Sudah menjadi rahasia publik jika selama ini pesantren telah menjadi obyek percobaan dari berbagai macam model kelinci percobaan, bahkan malahan yang ironius tak jarang pesan tren juga menjadi tumbal politik, padahal diakui atau tidak pesantren mempunyai andil yang tidak sedikit dalam usaha memerdekakan bangsa indonesia, sejarah mencatat, melalui tangan para Ulama’lah perrjuangan kaum santri berkobar, mereka bahu membahu melakukan perlawanan sengit terhadap para penjajah kolonial, bahkan kala itu kaum santrilah, satu-satu nya pioner perjuangan yang saat itu menjadi barang langka, sebab saking begitu kuatnya pengaruh penjajahan masih ditambah lagi politik adu domba yang begitu sempurna membuat indonesia tak pernah mencapai kata merdeka meski telah berpuluh puluh pahlawah yang tumbang bersimbah darah.
Namun kini pada saat reformasi bergulir, apakah posisi pesantren berubah ? ternyata tidak, terbukti disaat seluruh personel negara baik yang eksekutif, legislatif bahkan yudikatif berebut untuk menikmati kue kekuasaan, ternyata sikap pesantren masih adem ayem dibilik bilik kesederhanaan, belum pernah ada kabar yang menyebutkan bahwa ada sebuah pesantren menerima kucuran dana dalam jumlah besar dalam rangka meningkatkan kualitasnya, yang ada justru makin terpuruknya posisi pesantren karena terlindas oleh roda globalisasi, meski seharusnya kalau ditinjau dari kaca mata sejarah jelas sekali posisi pesantren mempunyai peran yang amat vital dalam usaha memerdekakan bangsa, kalaupun ada pesantren yang kebagian kue kekuasaan paling-paling hanya dijadikan kendaraan politik dan ekploitasi kekuasaan untuk memobilasasi masa, seperti fenomena yang terjadi belakangan ini dimana pemimpin pesantren (para Ulama’ dan para Kyai ) sering dijadikan pasangan dalam pemilihan baik yang skala rendah sampai tingkat nasional, terbukti sebagaimana sikap Megawati soekarno putri berpasangan dengan KH. Hasyim Muzadi dalam pemilu presiden tahun 2004, atau pada kejadian yang paling aktual yakni pemilihan Bupati dan wakil bupati Demak, dimana Endang Styaningsih berpasangan dengan KH. Habibulloh Huda. masing masing berpikir jika mereka mengandeng pasangan yang berasal dari golongan Ulama’ pasti akan mendapatkan sokongan suara yang cukup banyak.
Berbicara, tentang posisi Pesantren dalam berbagai segi uatamanya masalah politik, bisa dikatakan seperti membicarakan magnet, dimana dua arah mata magnetnya yang selalu bertentangan muaranya, begitupun Pesantren disuatu waktu ia akan menjadi barang yang tak berharga dimata para petualang politik, namun di suatu waktu dia akan menjadi seorang puteri cantik yang selalu diperebutkan oleh banyak perjaka, memang kalau diamati lebih jauh pesantren bisa dikatakan sebagai satu satu nya lembaga paling Nrima ing pandum dalam urusan jatah kekuasaan, dimana smua berlomba lomba dalam memperebutkan kue, Pesantren justru lebih konsentrasi membina mental dan jiwa yang sesuai kaidah islam dalam dengan mengusung sistem klasikal sebagai perantara.
Namun meski demikian kejam perlakuan dari dunia perpolitikan indonesia terhadap komunitas pesantren, apakah lantas kita justru harus menjauh dari dunia Politik? Tidak, justru dari sifat driskiminasi itulah seharusnya bagi kita ini adalah cambuk berapi, dimana kita harus berpacu dalam mempelajari dan mencoba memahami karakteristik sifat binal perpolitikan Indonesia, meski disana sini pesantren hanya dijadikan bahan ejekan dan tertawaan, kita justru harus bersemangat dalam menemukan Inovasi baru dalam berpolitk yang islami dan lebih bermartabat, agar langkah kedepan politik bukanlah menjadi sebuah obrolan yang membosankan, namun politik adalah sebuah pelajaran berharga yang selalu didiskusikan dalam perdebatan perdebatan ringan dibilik bilik santri.
Semoga Perpolitikan islam, santri dan indonesia.bisa berjalan bersama.
Uamien

Sabtu, 05 Desember 2009

BUNUH DIRI APAKAH SEBUAH SOLUSI

Mata wanita paruh baya itu terlihat masih sembab. Rona kemurungan menghinggapi wajahnya. Entah sudah berapa lama dia terdiam membisu. Sesekali dia menyebut nama anak gadisnya yang paling besar, Vivi.. Vivi… Orang-orang disekitarnya tak berani melarang apalagi menasehatinya. Semua orang sepertinya sudah memahami apa yang baru saja terjadi pada wanita itu. Beberapa hari yang lalu, Vivi, anak gadis keluarga Sukarji, penjual makanan burung itu mati bunuh diri. Tak ada yang menduga, pasalnya Vivi tergolong anak yang pendiam dan tidak suka neko-neko. Setelah polisi turun tangan barulah misteri kematian Vivi terkuak. Hanya karena salah faham dengan bapaknya Vivi akhirnya bunuh diri, seperti tertulis dalam buku hariannya yang terakhir. Vivi jelas sakit hati karena dimarahi ayahnya. Tragis. Hanya karena dimarahi orang tua, Vivi lebih memilih jalan kematian untuk mengakhiri hidupnya.
Senasib dengan Vivi, masih segar dalam ingatan kita, awal tahun 2005 yang lalu, seorang siswa kelas empat Sekolah Dasar di Pesisir Utara Jawa Tengah mencoba bunuh diri gara-gara tak punya uang Rp 2.000 untuk membayar iuran sekolah. Beruntung, aksi bocah tersebut dapat diketahui oleh pamannya, sehingga aksi nekatnya berhasil digagalkan. Namun akibatnya anak itu harus menjalani perawatan intensif selama berminggu-minggu di rumah sakit untuk memulihkan kesehatan dan pikirannya yang belum stabil.
Kasus lain terjadi di Tulungagung. Seorang kakek lebih memilih bunuh diri daripada harus menanggung penyakit asma yang telah dideritanya bertahun-tahun, ditambah dengan himpitan ekonomi yang mencekik leher. Tubuhnya yang renta ditemukan tergantung di balok kayu tengah rumahnya. Uniknya, sebelum memulai aksi nekatnya Kakek itu terlebih dulu Salat Dhuha dan Isthikhoroh. Bahkan saat ditemukan keluarganya, Dia masih mengenakan baju koko dan peci layaknya orang yang selesai melaksanakan ibadah (Radar Tulungagung/Jawa Pos. 14/01/’06 ).
****
Beberapa kasus yang mengemuka di atas, ternyata belum ada apa-apanya dengan ratusan kasus yang terjadi akhir-akhir ini. Ada beragam motif yang dijadikan alasan: mulai dari masalah
keluarga, ekonomi, sampai masalah percintaan. Dan paling aktual, bunuh diri telah menjadi sarana teror yang mengatasnamakan jihad, dengan bom sebagai media perantara. Kasus bunuh diri yang beruntun menambah panjang daftar kasus-kasus serupa yang terjadi akhir-akhir ini. Sebuah koran terbitan nasional pernah melaporkan: daftar prosentase bunuh diri yang terjadi naik menjadi 5,1 %, dibanding dengan kasus serupa yang terjadi pada tahun sebelumnya (Kompas. 27/11/’05).
Sungguh tragis, setiap saat korban baru bunuh diri berjatuhan. Bunuh diri ada yang dilakukan sendiri, seperi kasus di atas, dan ada pula yang berkelompok. Contohnya kasus yang terjadi pertengahan Agustus lalu. Empat orang warga Jepang bunuh diri secara berjamaah dengan menghirup gas beracun dalam mobil yang sudah di-setting menjadi sebuah ruangan hampa udara. Yang lebih aneh lagi. Konon bunuh diri merupakan cara paling terhormat bagi orang Jepang untuk menebus kesalahan yang pernah diperbuat. Tindakan nekat ini mereka sebut Harakiri.
****
Manakala nafsu sudah merongrong akal dan menguasai hati, maka pikiran jernih tak lagi menjadi rujukan utama dalam mencari solusi masalah. Sama halnya dengan pelbagai kasus di atas, ketika berbagai masalah mendera bertubi-tubi, lahirlah depresi berat dan stres yang berkepanjangan. Dan akhirnya, kematianlah yang dipilih sebagai penyelesainya.
Bila mau menggunakan logika yang sehat dan mencermati permasalahan secara dewasa, dengan dalih apa pun, bunuh diri adalah tindakan yang salah. Salah dalam kacamata agama, dan salah dalam sudut pandang sosial. Sebenarnya, andaikata para pelaku bunuh diri itu mau berpikir lebih tenang dan menelaah secara mendalam dampak yang timbul dari perbuatannya, pasti ada solusi yang lebih masuk akal ketimbang bunuh diri. Semoga kita terhindar dari perbuatan semacam itu. Amin.
(Arif ”TNI”Noer

Minggu, 22 November 2009

AKU BERDOSA LAGI

Rasa itu datang menyiksa lagi...
Setelah sekian lama, lama aku terbungkam oleh ketidak pastian, akhirnya aku temukan setitik nafas asmara, meski ta' bergelora asmara romeo n juliet, namun kurasakan bias-bias indahnya bertutur kata dengan sajak yang keluar dari nurani. aku juga merasakan desah manja dari seorang insan polos yang yang mencari tambatan jiwa.
Lantas, aku berangan dan berkhayal untuk kesekian kalinya, tiap malam hanya namanya yang aku sebut, setiap kedip mata hanya wajahnya yang menari, ternyata aku benar-benar telah jatuh cinta..
Namun senyum ini tersungging tidak begitu lama, setelah empat purnama dia menjadi penghias hatiku, dengan langkah gamang dan hati yang terkoyak harus kutinggalkan dia...
harus...
itu harus....
meski air mata jatuh terurai, aku harus lakukan ini, karena Kemarin, sekarang dan esok sekalipun pertautan hati ini harus berakhir, karena rasa sakit itu kapanpun akan datang...
Berdosa...
yaaah... aku berdosa lagi, aku sia-siakan sebuah cinta murni, aku campakkan asmara tulus..
Ade....
maafkan mas
mas tak kuasa melawan takdir
mas tak sanggup berkata-kata, inilah jalan hidup kita,
percayalah dikua kan jelang mahligai cinta yang lebih indah dari mas
percayalah.....


Lirboyo 20 Januari 2009 Pukul 02.00 Dini hari

Mari berfikir yang positif

Setelah sekian lama berkutat pada ilmu yang pernah habis, nasib ku kini betul betul berada diujung tanduk, cinta yang selama ini aku bina ternya musnah dalam sekejap