SELAMAT DATANG

Assalamu'alaikum Warahmatullohi Wabarakatuh

Selamat datang para pengelana dunia maya.
Selamat datang diduniaku, dunia sederhana yang dipenuhi dengan kebebasan dalam berekspresi,
namun tetap mengedepankan Ahlaqul karimah,
tanpa takut oleh tekanan dari manapun, dan jauh dari diskrimininasi budaya, hukum, martabat, derajat dan pangkat.

Ini adalah suara murni hatiku,
yang terangkai dalam dalam bentuk kata-kata,
entah jelek entah bagus, namun inilah aku yang jujur dalam berfikir dan berkata.

Moga ada guna dan manfaatnya

Amin Amin Ya Robbal Alamin

Jumat, 28 Januari 2011

BARSESO MILENIUM



Tulisan ini pernah aku pasang di majalah Dinding Hidayah lirboyo tahun 2006

Deru knalpot yang memekakkan telinga terdengar semakin mendekat. Dari jauh, tampak iringan pemuda bermotor tertawa terbahak-bahak di antara raungan suara motor yang menyalak. Seakan tak memperdulikan keheningan malam yang telah menghinggapi kampung kecil itu, mereka dengan lantang berteriak-teriak menantang siapapun yang mereka temui. Namun, tak satu pun warga kampung yang berani mencegah, apalagi sekedar memberi peringatan. Orang-orang kampung lebih memilih mengelus dada seraya berdo’a semoga pemuda-pemuda itu cepat sadar.

Di antara berandalan tersebut ada seorang pemuda gagah. Posturnya tinggi besar, kulitnya hitam lebam. Gaya bicaranya tak beraturan. Tangan kananya memegang botol minuman keras. Sempoyongan ia berjalan mendekati pos jaga kampung yang seolah sudah beralih fungsi menjadi markas besar para pemuda berandalan itu. Dia menyandarkan badan lusuhnya pada dinding. Dia mengomel sendirian, tanpa makna. Tak lama, Aan (nama samaran) merebahkan tubuhnya. Beberepa menit, dia telah lelap dalam tidur.

Suara adzan subuh membahana, terdengar dari surau kampung sebelah. Meski suara muadzin tak begitu merdu, rupanya dapat membuyarkan tidur Aan. Ia segera bangun. Kemudian melangkahkan kaki keluar dari pos sekedar menghirup udara segar. Saat itulah, secara tidak sengaja Aan bertemu dengan dua bocah kecil berpeci, bersarung dan memeluk kitab suci di dada. Kedua bocah itu kaget melihat Aan. Tapi keburu Aan menyapa

“Mau kemana, kalian!”

“Ngaji, Cak !. Di mushola H. Latif” jawab anak-anak itu polos.

“Ya, sudah. Berangkat sana!“

“Terima kasih, Cak” jawab anak-anak itu lagi, sambil berlari.

Sepeninggal dua bocah kecil itu, kembali Aan rebahkan tubuhnya. Keceriaan anak-anak tadi membawanya kembali kepada masa-masa kecilnya dulu. Masa bahagia bersama dengan keluarga besarnya. Saat itu, semua menyayangi, mencintai dan merperlakukan Aan istimewa. Sehingga tak jarang banyak teman-teman sebayanya jadi iri. Aan kecil tumbuh dengan cepat. Otaknya tergolong jenius. Berbagai prestasi pernah Ia raih. Bahkan Aan dulu selalu menjadi bintang kelas disekolahnya.

Waktu terus beranjak. Aan yang dulu kecil kini telah dewasa. Badannya yang putih bersih dan rupawan, membuat semua orang simpati kepadanya.

Singkat cerita, akhirnya Aan dikirimkan orangtuanya ke sebuah pesantren elit di kotanya guna mempelajari ilmu-ilmu agama. Di sinilah kecerdasan Aan semakin tampak, hanya dalam tempo dua tahun Aan sudah bisa melahap semua pelajaran yang di ajarkan. Kemampuan otak yang di atas rata-rata membuat semua Ustadz di pesantrennya bersimpati dan sayang kepada Aan. Sang Kakek pun sangat mencintainya. Saking cintanya, tak jarang semua permintaan Aan dikabulkan oleh sang kakek. Hal itu semata-mata demi kebahagiaan sang cucu.

Namun, seiring berjalannya waktu, Aan yang dulu seorang santri, dicintai dan diharapkan ilmu agamanya, kini telah berubah jauh. Bahkan sangat jauh. Aan lebih sering berkumpul dengan anggota geng-nya ketimbang bermusyawarah dengan teman-teman remaja masjid. Aan lebih konsentrasi mendengarkan bisikan dan hasutan setan ketimbang nasehat-nasehat dari guru-guru ngajinya. Aan lebih senang menenggak minuman keras daripada berpuasa Ramadlan. Dan paling parah, waktu Aan lebih banyak digunakan mencuri barang-barang orang lain daripada beramal saleh. Ringkasnya, Aan yang dulu disenangi karena keluhuran budi pekertinya, kini lebih sering dicemooh karena perbuatan kotornya

“Aaaaaah..” Aan mendesah panjang, sepanjang harapannya yang telah buyar dan tak kunjung kembali. Aan tersadar dari lamunannya. Ia menunduk, menyesali mengapa semua bisa terjadi begitu cepat. Dia bingung, mengapa dia menjadi seperti ini.

Pernah ia coba untuk kabur dari komunitasnya itu. Tapi percuma. Sebab, tangan dan mulutnya tak bisa tenang bila sehari saja tak menyentuh minuman keras dan lintingan ganja. Dia kembali menundukkan kepala. Menatap bumi yang dipijaknya. Menyesal, menyesal dan terus menyesal tanpa usaha untuk bangkit dari keterpurukan.

*****

Jangan pernah menyangka kisah di atas hanyalah rekaan penulis. Tokoh Aan dalam kisah itu adalah benar-benar nyata dan hadir dalam kehidupan kita. Aan pernah menjadi bagian dari hidup kita. Aan adalah sahabat kita yang kini tengah terjerembab dalam lobang kesesatan.

Entah bagaimana awalnya, kisah ini berlalu begitu cepat, dulu Aan (bukan nama sebenarnya) adalah sosok santri ideal yang memiliki kelebihan dalam berbagai bidang, terutama Nahwu dan Fiqh. Selain berwawasan luas, dia juga diberi anugerah wajah yang rupawan. Walhasil tak jarang Aan sering menjadi obyek Gojlokan antara teman temannya. Tapi entahlah, secara tiba tiba Aan mengubah haluan hidupnya. Aan yang kukenal sekarang dulu bukanlah Aan yang dulu.

Sepintas, meskipun dalam setting berbeda, kisah Aan memiliki kemiripan dengan legenda Kyai Barseso. Barseso merupakan representasi dari seorang Ulama Besar, punya ribuan santri, yang kemudian menjadi kufur hanya karena bujuk rayu Setan dan kroni-kroninya.

Hikmah apa yang dapat kita ambil dari kisah di muka? Hikmahnya. Posisi kita sebagai duta agama ternyata bukanlah suatu jaminan pasti bahwa kita akan terhindar dari semua bujuk rayu Setan. Sebaliknya, hanya konsitensi dan istiqomah yang dapat menjadi tameng kuat bagi keabadian iman kita. Semoga kita senantiasa dapat menjaga diri dari hal-hal yang dibenci Allah Swt. Wallahu a’lam

(TNI / Arif Noer)

Selasa, 25 Januari 2011

MENDENGAR NURANI YANG LAIN


Entah apa yang ada dibenak mereka, sehingga sering kali Pondok Pesantren dijadikan persinggahan terakhir atas segala keluh kesah yang mereka hadapi. Dengan beragam permasalahan yang ada mereka mencari sebuah pencerahan meski sekilas pintas, dengan harapan mereka akan menemukan solusi. Begitu pula aku, sebagai penjaga pintu di Pondok Agung ini, tak jarang aku menemukan banyak keluh kesah atas himpitan dari masyarakat umum. Mulai dari himpitan ekonomi, masalah keluarga hingga penyakit yang tak pernah sembuh.

Seperti yang hari ini aku alami, seorang ibu muda yang tergesa-gesa bertanya tentang cara bertemu dengan seorang yang Wira’I dan konon mempunyai indra ke-6, setelah aku jelaskan keberadaan Kyai tersebut, dengan setengah memelas dia mulai menceritakan permasalahan yang mendera dia dan keluarganya, Mulai dari statusnya yang janda, kakaknya hingga keponakannya yang diteror mahluq halus.

Secara runtut dan jelas ia menceritakan semuanya, terkadang ia menggunakan intonasi suara yang tinggi mengungkapkan gejolak emosi didadanya dan sesekali ia lelehkan air mata mengisahkan semua penderitaannya. Terus terang aku trenyuh dengan beragam kisah sedih yang menimpanya, seakan sudah terlalu banyak musibah yang disandangnya, andaikan aku yang mengalaminya mungkin aku tak akan setegar dia.

Melihat realita diatas, hari ini suara kita ternyata masih dibutuhkan oleh mereka, oleh orang-orang yang terhimpit beban didada dan orang-orang yang berputus asa, lantas sebagai manusia yang di anggap mampu menelaah dan menyelaraskan hati dan jiwa, apakah akan kita tinggalkan mereka…? Dalam tangisan, dalam rintihan tak berujung. Justru kita yang harus tampil didepan menyelamatkan mereka, berikan obat hati yang ringan, petuah-petuah indah sehingga mereka bisa menatap hari ini, esok dan lusa dengan lebih siap, meski tak sepenuhnya musibah telah berakhir. Paling tidak beban di hati akan berkurang. Oleh karenanya jangan tinggalkan mereka, namun bantu mereka.

Meski kadang kita dianggap mahluq pinggiiran yang udik dan kudisan, yang kerap kali mendapatkan diskriminasi perlakuan sosial, ternyata suara kita masih dicari. Oleh karenanya jangan merasa rendah kawan

Minggu, 16 Januari 2011

MENATA HATI USIR EMOSI


Kadang apa yang kita ingini tak sejalan dengan harapan dan keinginan, yang ada malah justru kebalikan hampir 180 %, hal seperti inilah ynag dapat memantik meosi kita menjadi labil dan mudah terpancing. Seperti halnya aku, setelah vacum selama hampir kurang lebih satu bulan penuh tak kujamah kantorku yang baru, ternyata banyak perubahan yang telah bergulir, mulai cara berfikir, piket jaga hingga wewenang yang melampui batasnya.

Inilah yang terkadang membuat dadaku terasa sesak kala melihat beberapa orang sekeliling dengan congkak dan gayanya yang sok tahu hendak menghandle semua kerjaan yang bukan wewenangnya, bukankah semua ada tugas dan jabatannya tanpa diambilpun maka akan tampak mana tugas kita dan yang mana bukan wilayah kita. Semua ada jalannya, tanpa dirampas pun maka akan kelihatanlah mana yang pantas kita kerjakan.

Entah apa ang harus aku perbuat, namun bagaimana lagi inilah kesalahan yang telah aku perbuat sendiri, karena terlalu lama aku singgah dirumah sehingga beberapa tugas Vital disini menjadi terbengkalai, salah satunya wewenang dan tugas itu sendiri, namun bagaimana lagi semua telah terjadi yang ada sekarang adalah konsekwensi dari tanggung jawab yan telah aku gulirkan, meski kadang aku berguman dalam hati apakah pantas kita mengerjakan tugas yag bukan wilayah kita, padahal semestinya jika ada pelipahan tugas harusnya ada semacam pelimpahan wewenang secara simbolis, sehingga akan ada kejelasan mana yang bertanggung jawab dan mana yang tidak.

Walaaah... biarkan wis... biarkan semua berjalan dengan sendirinya, lagi pula ini adalah tanggung jawab kita bersama, untuk mengelola kelestarian Pondok Tercinta ini melalui berbagai aspek dan segi....

Nesu ra jaruan Sebabe... jane mung iri kok...,.

Rabu, 12 Januari 2011

KESAN INDAH BERSAMA SULTONUL ULAMA’


Sebuah kenikmatan besar tengah aku reguk, meski dengan keterbatasan kemampuan dalam menelaah ilmu, aku masih diberikan kenikmatan oleh Allah untuk bersua dengan salah seorang Maestro ilmu dari negeri para habaaib Hadarmaut Yaman, beliau adalah Alhabib Al Alim Al Alamah Sultonul Ulama As Syayid Salim bin Abdulloh Bin Asyatiri pengasuh Ma’had Tarim Hadramaut Yaman.

Awal mula anugerah ini aku mulai dari ditugaskannya aku menjemput sang habib di perbatasan kabupaten Kediri, yang rada bikin aku bangga adalah aku di tugaskan menjemput beliau dengan menumpang mobil Patwal milik Polresta Kediri, akhirnya setelah menunggu setengah jam hingga aku muntah-muntah karena di guncang-guncang mobil patwal itu, akhirnya aku dapat bersua denagn sang habib, perjalananpun berlanjut, dengan iringan rebana yang dinaikkan diatas truck terbuka dan iringan konvoi kendaraan bermotor kami menuju perlahan menuju pondok pesantren Lirboyo. Terus terang perasaanku saat itu sangat merinding membayangkan betapa agung sosok orang yang aku jemput ini.

Banyak sekali para maha guru-guruku yang berkena menjemput kerawuhan sang habib ini, hingga hampir larut malam kesemuanya berkenan untuk beramah tamah dengan beliau, usai beramah tamah akhirnya sang habib berkenan untuk istirahat dan aku yang bertugas untuk menjaga ndalem semalaman, karena jika sewaktu-waktu sang habib membutuhkan bantuan, ada yang siap melayani, akhirnya malam itu aku gunakan sebaik-baiknya untuk betul-betul merasakan indahnya malam bersama sang kekasih Allah, nikmat memang, seakan malam pun tunduk hormat kepadanya. Kala sang surya menyembul di ufuk barat, sang habib beserta para santri kesayangannya melaksanakan sholat subuh berjamaah, disinilah aku kembali rasakan kedamian jiwa berada ditengah-tengah orang alim dan beriman, berada di antara orang-orang sholeh, meski aku tidak hafal runtutan doa’ayang di panjatkan sang habib beserta murid-muridnya, namun aku ikuti kesemuanya dengan seksama termasuk didalamnya beberapa ijazah langka yang mungkin hanya santri Tarim yang mendapatkan kesempatan.

Itulah sepenggal cerita indah yang aku petik dari kerawuhan sang Habib, namun sebetulnya banyak sekali kisah indah yang lain yang aku himpun selama bertugas melayani beliau, sosok yang sorot matanya tajam namun santun dalam berujar, teguh dan kuat dalam menjalankan ibadah meski dalam usianya yang sepuh. Semoga dimasa depan nanti aku dapat menirukan meski sekejap semua amaliyah dan keilmuan yang beliau sandang, amin.

Kamis, 06 Januari 2011

HARUS BERAKHIR.....

Tak dapat aku pungkiri, karismanya mengikat sukmaku, hingga dalam hembusan nafasku hanya kerlingan wajahnya yang hiasi mataku, senyum simpulnya yang sederhana buat jiwa ini damai kala dirundung resah, tutur katanya lembut redakan gejolak amarah dan entah berapa banyak lagi kedamaian yang ia ciptakan untuk tenangkan hatiku.


Namun, semua cerita itu musti berlalu dan harus aku akhiri, karena tak mungkin aku selamanya menerima belaian cintanya tapi aku balas dengan kebohongan dan kebusukan, meski terasa sakit dan terasa amat berat sangat, aku harus tegar dan tegas mengatakan yang sebenarnya. Meski pada akhirnya air mata cengeng ini, akan meleleh tanpa henti meratapi sakit yang tiada terkira. Akhirnya harus, dan harus aku tegarkan jiwa ini untuk menerima kenyataan, bahwa aku kalah oleh kenyataan, aku tertindas oleh kesalahan.

Ada sebuah perkataan ringan dari sahabat karibku, dia berkata “Sekarang sederhana saja, coba hitung berapa lama kasih sayang yang telah Ibu berikan kepadamu, bandingkan dengan kasing sayang yang telah diberikan kekasihmu padamu, udah gitu aja aku ga’ mau terlalu panjang menasehati” Ujarnya singkat. Duh Gusti… tertegun aku dengan perkataan sobatku itu, sekian lamanya aku termenung dan merenung dalam-dalam, rupanya aku tersibak oleh ke-egoisanku sendiri.

Huff… napas panjangku kembali berhembus, sembari kupandangi senja yang makin meredup diufuk barat, aku pejamkan mataku dalam-dalam, memoriku menerawang jauh kala kecilku bersama ibu, sesekali aku tersenyum simpul mengingat keluguan beliau dan terkadang aku menghela nafas kala mengingat kegigihan beliau berdiri berjam-jam untuk melayani pembeli demi sesuap nasi putranya, ya putranya….. Masya Allah apa yang telah aku perbuat!!! Dan sekarang aku harus bangkit dan berkata, ini semua harus berakhir.

Guman sepi, 05 Januari 2011

Kamis, 30 Desember 2010

DESAH MEMBANTAI RESAH


Entah untuk yang keberapa kalinya, aku bergelimang dosa, padahal aku tahu itu adalah sebuah kesalahan besar, padahal aku memahami betul konsekuensi hukumnya, namun sekali lagi dan terus menambah lagi dosa-dosa baik skala kecil maupun dalam takaran yang besar, seolah karung yang bertumpuk dengan karung yang lain. Dosa ini seakan menyatu dengan dosa yang lain, yang akhirnya menjadi sebuah monumen tak berkesudahan.

Terlepas dari desahan lirih penuh sesal ini, Sepertinya ada yang terselip secara ringan dari sanubari kita, bahwasanya sebagai mahluk yang dloif, kita terlalu naif dan percaya diri akan amal baik yang telah kita kerjakan selama ini akan menjadi dewa penyelamat kala sang Maha Adil bertanya, padahal dengan lugas tangan, kaki dan semua anggota tubuh kita bersaksi dengan jujur. Apa yang selama ini dikerjakan dan kita perbuat.

Duh Gusti, ingkang maha Agung, tak ada yang hamba mohon dimalam yang penuh maghfiroh ini, selain dibukanya pintu hidayahMu, semoga dosa yang selama ini hamba timbun dalam hati hamba, akan luruh seiring dengan datang hujan Magfiroh, sehingga mata batin hamba dapat memilah dan memilih mana yang haq dan mana yang bathil.

Duh Gusti, hamba memohon dengan permohonan yang tulus, hentikanlah detak jantung hamba dengan perlahan jika kelak, aku hidup hanya dengan bergelimang dengan Dosa, Putuskanlah urat nadi hamba jika kelak tak mampu melaksanakan semua amanat yang Engkau perintahkan dan menjauhi semua larangan yang Engkau benci. Tempatkanlah hamba di maqamnya orang-orang sholeh yang selalu menyanjung namaMu dalam sanubari dan dudukkanlah hamba selaras dengan para Suhada yang melafadzkan namaMu kala menghembuskan nafas terakhirnya.

Semoga semua kerlip mata hamba tak mampu jauh dari syukur atas semua nikmat yang Engkau anugerahkan, semoga hamba menjadi insan yang Bedjo tur Slamet dunyo dumugining Akhirot. Amiiieeeen…

Ketak-ketik dipenghujung tahun ketiga dasawarsaku….

Selasa, 28 Desember 2010


MENGUSUNG TEKNOLOGI INFORMASI DAN KOMUNIKASI
DALAM KOMUNITAS PESANTREN

Oleh ARIF NOER
Utusan Pondok Pesantren Lirboyo Kota Kediri

Semenjak kali pertama Pesantren dirintis oleh Kanjeng Sunan Ampel disurabaya, sekitar empat abad yang lalu, sejak itulah model pendidikan yang mengusung pemikiran Ta’lim Wa Ta’lum dilestarikan, konsep yang mengilhami model pendidikan tersebut adalah kitab Ta’lim Al-Muta’alim, sebuah kitab Fenomenal karya Asyaikh Nawawi Al-Makki yang fokus mengedepankan Ahlaqul Karimah dalam proses belajar, agar ilmu yang diperoleh bukanlah sebatas ilmu pengetahuan agama belaka, namun sebuah ilmu spiritual religius yang pelajari, diamalkan serta dilestarikan. Oleh karena itu segala permasalahan yang dapat mengganggu stabilitas proses belajar-mengajar dipesantren sebisa mungkin diminimalisir, seperti Berkomunikasi dengan dunia luar (baca Masyarakat), menghindari pemakaian alat alat elektronik seperti Radio Televisi dan Hand Phone. Meski pada akhirnya banyak komunitas pesantren yang mendapat cercaan dan hinaan, bahkan mendapatkan predikat kolot dan ketinggalan zaman, karena saking lambatnya menerima informasi dan melakukan komunikasi, namun hasil yang didapat adalah banyak santriwan dan santriwati yang dapat menyerap ilmu agama secara keseluruhan, sehingga ilmu yang didapatpun dapat diserap secara cepat tanpa terkontaminasi oleh hangar bingarnya dunia luar. Namun pertanyaan yang mengemuka sekarang adalah,apakah dengan menutup diri seperti itu akan terus menjadi solusi dari pengembangan dunia pesantren, padahal kini dunia sudah sedemikian pesat ?

KORELASI ANTARA PESANTREN DAN TIK
Komunikasi adalah bagian dari yang tak terpisahkan dari kehidupan, diakui atau tidak; semenjak manusia diciptakan oleh Allah sebagai kholifah dimuka bumi ini, komunikasi merupakan salah satu bagian yang berperan sangat besar dalam perkembangan peradaban manusia, sebab dengan komunikasi manusia bisa bertukar informasi, belajar dan mengajarkan ilmu yang mereka himpun selama ini, bahkan dengan komunikasi manusia bisa meningkatkan taraf ekonominya dengan melakukan barter dengan kelompok, suku bahkan negara lain. Selanjutnya, seiiring dengan perkembangan zaman, hadirnya beragam inovasi perangkat elektronik dewasa ini, semakin tak terbendung, bukan hanya teknologi yang mempermudah dalam berkomunikasi namun juga dalam segala kebutuhan dan kegiatan manusia, seperti transportasi, akomodasi bahkan konsumsi. Hadirnya teknologi tepat guna yang telah merambah keseluruh sendi kehidupan masyarakat tersebut, ternyata juga telah memasuki wilayah Religius umat manusia, dimana saat ini kemudahan dalam memahami dasar dasar agama seperti kitab Suci Al- Qur’an atau mencari referensi Hadist, kita tinggal mengakses ataupun mendownload dari internet. Sehingga dalam hitungan detik kita bisa mengetahui informasi yang kita inginkan tanpa harus menunggu berhari-hari. Peran Pesantren sebagai sebuah Lembaga pendidikan Islam tertua, yang konsisten mempertahankan nilai-nilai luhur pendidikan Salafy, yang ada di Indonesia saat ini, sudah selayaknya memasukkan Teknologi Informasi dan Komunikasi, sebagai bagian dari keseharian dunia Pesantren, sebab diakui atau tidak, seiring dengan perkembangan zaman, pesantren mulai dipandang sebelah mata, karena edukasi dan system klasikal yang monoton dan tanpa perkembangan. Disinilah salah satu cara yang efektif untuk mengubah Image pesantren sebagai komunitas kolot menjadi sebuah komunitas pelajar yang dapat berinteraksi dengan dunia luar melalui media dunia maya, meski tanpa menanggalkan baju Salafynya(baca; Tradisional). Selain itu bagi segenap Komunitas pesantren, kehadiran Teknologi Informasi dan Komunikasi merupakan sebuah sarana yang efektif untuk bertukar informasi dan menjalin Ukhuwah antar pesantren. Namun meski sedemikian mudah kita dalam menggali informasi dan berkomunikasi, sudah sepatutnya kita waspada dan lebih berhati hati dalam mengggunakan fasilitas ini, sebab dengan berbagai macam kemudahan yang terdapat pada Teknologi Informasi dan Komunikasi ternyata juga dibarengi dengan macam-macam bahaya yang siap mengancam, salah satu contoh yang paling sering mengemuka dan berbahaya adalah Ideologi Islam garis keras dan Pornografi, sehingga bukan tidak mungkin, tujuan awal yang kita inginkan adalah peningkatan mutu pendidikan dan komunikasi, namun yang didapat adalah sisi negative dari fasilitas TIK.

SOLUSI SEDERHANA PENGEMBANGAN TIK DIDUNIA PESANTREN
Pemerintah sebagai aktor utama pengembangan kualitas sumber daya manusia Indonesia dan Departemen Komunikasi dan Informatika (DEPKOMINFO) sebagai pelaksana, sudah seharusnya melakukan Inovasi secara menyeluruh terhadap perkembangan teknologi Infomasi dan Komunikasi dalam dunia pesantren, sebab tanpa campur tangan dari pemerintah, mustahil Pesantren akan mampu menguasai Teknologi Informasi dan Komunikasi, kemudian lambat laun pesantren akan mati suri dan punah ditelan masa, karena tidak dapat mengimbangi perkembangan zaman.

Ada beberapa solusi sederhana yang dapat diterapkan. Pertama dalam pengembangan Teknologi Informasi dan Komunikasi dalam dunia pesantren, pemerintah menyediakan wahana dan sarana komunikasi, khusus bagi insan Pesantren, seperti disediakan sebuah Website khusus, yang berfungsi sebagai sarana komunikasi bagi dunia pesantren. Kedua, pemerintah diharapkan memberikan bantuan perangkat keras (Hardware) seperti seperangkat komputer, modem dan jaringan telepon, sebagai perlengkapan utama dalam pengembangan Teknologi Informasi dan Komunikasi, sebab diakui atau tidak, sudah menjadi rahasia umum jika pesantren sebagai sebuah lembaga pendidikan tradisional, minim sekali akan fasilitas. Ketiga, pemerintah menggelar pelatihan dan seminar secara stimultan dan periodik, dengan harapan agar dikemudian hari Teknologi Informasi dan Komunikasi bukanlah sebuah angan-angan tanpa usaha, namun sebuah sarana peningkatan mutu pendidikan Religius, yang berjalan beriringan dengan segenap komponen bangsa ini, untuk membangun dan berkarya, tanpa harus menggusur nilau nilai Salafy yang telah tertanam dalam sanubari para santri.



Dibuat sebagai pelengkap Diskusi sehari dengan Tema “Dampak Kehadiran Teknologi Informasi dan Komunikasi di Pesantren”
Yang diselenggarakan oleh Departemen komunikasi dan informatika
di Pondok Pesantren Tremas Pacitan Jawa Timur
Kamis, 03 April 2008

Sabtu, 25 Desember 2010

HARI-HARI YANG MELELAHKAN


Entah dari mana akan kumulai taburan kata-kata ini, sebagai ungkapan hati agar kelak bisa menjdai kenangan indah bagiku, anakku dan semua orang yang kenal dengan aku.

Hari itu sabtu 18 Desember 2010, Ibuku (yang kini berganti nama menjadi Hj. NUR ROHMI KHODIJAH ABU BAKAR) dan kakangku (H. MUHKLAS NOER) rawuh dari tindakan Haji, meski secara financial semua persiapan penyambutan masih dalam tahap penyempurnaan, namun apa mau dikata, show must go on, semua harus siap dan sigap. Cara sederhana untuk menyempurnakan penyambutan adalah dengan memperindah cat dirumah dan merehab ulang tata ruang dirumah sederhana itu, namun yang jadi permasalahan adalah masalah mahalnya biaya cat dan juga tukang yang akan mengerjakan. Ada istilah seribu jalan ke Roma, benar saja, untungnya ada adik’e mbak Iparq yang ahli pengecatan dan yang lebih hebat lagi, dia tidak mau dibayar, sepeserpun! Ya sepeserpun.. akhirnya H-14 hari, kita gunakan untuk betul2 mempercantik cat dinding yang sudah hampir 5 tahun lamanya tidak di cat. Akhirnya dengan napas yang tersenggal-senggal dan tulang punggung yang serasa rontok usai juga pengecatan ala kadarnya, namun hasilnya luar biasa.

Dengan perasaan bangga yang meluap-luap, aku lihat berulang-ulang hasil kerjaku, “ternyata bagus juga” ujarku sombong, padahal mayoritas yang ngecat adalah sodaranya embakku tadi!!!, Nah usai pengecatan, muncul lagi masalah baru yang butuh perhatian serius, masalah souvenir atau oleh-oleh haji, nah disinilah yang bikin aku miris dan buat aku rada protes kepada masyarakat sekitar. Faktanya : Sudah menjadi kebiasaan didaerahku, jika seorang yang baru saja menunaikan ibadah haji, maka pak haji dan bu Haji akan memberikan hadiah kepada sanak kerabat dan para tetangga yang ziarah haji, namun sayangnya tradisi ini telah merubah niat sebagian orang khususnya kaum hawa, sehingga tujuan awal dari ziarah haji yakni mengharap doa barokah namun sudah bergeser jadi mengharap oleh-oleh semata. Padahal dari tinjauan mata sufistik dan para ulama tasawuf, seseorang yang baru melaksanakan ibadah haji maka akan berlimpahlah barokah dari tanah suci. Namun namanya juga orang banyak, meski sudah ada tuntunan sunnah seperti itu, ternyata tidak merubah sifat matrealistik yang ada. Padahal bila kita mau jujur, sebenarnya biaya yang dibutuhkan seseorang untuk melaksanakan ibadah haji adalah sungguh-sungguh sangat besar, maka akan sangat naïf bila kita tambah membebani orang yang melaksanakan ibadah haji tersebut dengan tuntutan yang ga’ bermoral semacam itu. Kembali pada masalah souvenir, meski ada tuntunan seperti itu, kita tidak bisa langsung menghindar begitu saja karena rendahnya daya pemikiran ummat kita saat ini, maka untuk meminimalisir gossip murahan tersebut, maka keluargaku menyiapkan ratusan bingkisan sederhana berupa gelas hadiah dari perusahaan, tasbih hasil kreatifitas mbakku dan kurma… dan Alhamdulillah meski mendadak dan ngoyo namun akhirnya jadilah bingkisan imut dan cantik, meski akhirnya semua gelas dirumah nyaris habis dibuat souvenir.

Usai souvenir, ternyata ada lagi masalah yang muncul, yakni Konsumsi!!!! Wah betul-betul menguras pikiran untuk yang satu ini, karena selain membutuhkan dana yang besar, Konsumsi juga membutuhkan kerja tim yang kuat dan kompak, namun terus terang untuk apa yang terjadi dibelakang aku kurang begitu faham, karena aku lebih focus ke tatanan di depan saja. Untungnya ada kakangku dan mbakku yang telaten untuk mengurus disana….

Wah.. tak terasa waktu yang sebegitu lama, menjadi hari-hari yang terasa sangat singkat, karena minimnya persiapan dan dana yang menipis. Namun semua ini akan menjadi kenangan indah dan sangat indah yang terlalu berharga untuk dilupakan begitu saja.

Ahad 26 Desember 2010

Kamis, 25 November 2010

BENAR-BENAR PERGI


By Pudja


Tuhan berikan aku kekuatan

Sebelum dia meninggalkan aku



Tuhan beri ku jalan

Karena diriku masih mencintainya



Tak Sanggup aku menahan perihnya dalam hatiku

Tak sanggup aku Bertahan dalam kesedihan



Bila waktu malam akan datang

aku tak mau sendirian

ingin selalu ditemani kamu

memelukku dalam kesepian



Bila waktu malam mulai sunyi

ku tak mau ditinggal sendiri

ingin selalu sama-sama kamu

hingga nanti kamu Benar-benar telah pergi



***

Tak semudah yang dikira

Teramat berat

Selasa, 23 November 2010

MERANGKAI HARI YANG TERBENGKALAI


Hari-hariku yang kian sepi, meski aku lihat lalu lalang yang bertengger di mataku, namun kegersangan jiwa kerap kali kurasa dan aku lihat masih berada dalam sudut jiwaku, meski hanya sebatas asa, namun aku rasakan betul pengaruhnya terhadap pola fikirku.

Aku tak hanya menjadi pecundang namun terkadang aku merasa dirikulah manusia yang paling gemar berbohong, ingin rasanya berteriak sekeras mungkin dan mengepalkan tangan meninju langit, meluapkan semua kegersangan yang ada dan mencari sumber air penyiram jiwa gersang ini.

Namun entahlah masih saja, jiwa ini menyanyi dengan angkuh seolah di Dunia yang fana in hanyalah aku yang paling punya kuasa dan cinta…

Dan kini di penjara yang ini kebali aku rangkai hari-hari yang tercerai berai menjadi bait-bait nan indah, agar dimasa sepuhku kelak aku mampu menatap arah mata hari terbit dengan wajah yang mendongak bukan lagi tertunduk menyesal penuh duka

Semoga dan semoga

Warnet dini hari di tanggal 24 November 2010

Senin, 22 November 2010

EMAKKU NAIK HAJI


Sedari awal, angan dan pikiranku ga nutut kalo orang yang menyanyangiku sedari kecil ini akan menunaikan ibadah haji. Namun jantungku langsung berdegub kencang kala aku lihat ternyata ibuku benar-benar Naik haji, Buktinya ada tas gede bertuliskan Jamaah Haji Indonesia dimarnya yang sederhana. Masya Allah ternyata ibuku yang sabar dan Tangguh itu betul-betul akan memenuhi panggilan Allah.

Haji... terlepas dari pemahaman secara luas dalam Syariat. menurutku adalah sebuah ibadah yang Maha berat dan membutuhkan persiapan yang tidak main-main. Fisik yang prima sekaligus dukungan finansial yang mumpuni, dan yang tak kalah penting adalah persiapan Mental yang betul-betul berserah diri kepada Allah SWT.

Pada malam hari sebelum keberangkatan beliau, saat bantu-bantu ngepak tas kopernya, aku lihat sorot mata yang tak pernah lelah beribadah itu dengan semangat merapikan baju-baju sederhanya. Tanpa seijinnya aku masuki kamar itu dan ku tutup pintunya, lantas beliau berujar "lapo rif..?", "bu kulo bade nitip niki..."ujarku sambil kuserahkan beberapa lembar kusam berwarna merah... Masya Allah yang bikin aku takjub, tanpa dinyana beliau peluk aku dengan erat, ya dipeluk! sebuah momen yang teramat mahal bagiku... sebab semenjak aku beranjak dewasa aku tak pernak di peluk.. sebagai wujud hormatku, aku sujud dan kuciumi kakinya. namun beliau cegah " nak wis kakean sing awakmu titipne nang aku..." ujar beliau terisak " Bu.. nopo yang kulo serahkan niki tak sebanding dengan nopo-nopo yang kulo curi saking panjenengan, jenengan terami njih.." ujarku sembari berurai air mata.... "iyo nak, sepurane dusoku yo", Dosa... ibuku bilang dosanya kepadaku, Hatiku berujar, sebelum beliau ucapka itu aku sudah memaafkan beliau...itulah moment terindah dalam hidupku, puas aku memuaskan ibuku.

To be Continued....

Selasa, 09 November 2010

AKHIRNYA ANNA BILANG CINTA


Degub jantung ini terasa semakin kencang, kala aku masuki barisan tenda tarub itu, bentuknya yang besar dan megah membuat orang yang lewat atau sekedar melihat, akan berfikir siempu acara ini pastilah orang kaya. Tak salah jalan pikiran orang itu, dia adalah Abah Kaji Ghofur, juragan padi yang sangat terkenal di desaku. Hari ini dia menikahkan putri sulungnya yang bernama Fitria Isfhiana dengan Muhammad Abdillah Putra Haji Khozin Juragan buah dari kampung sebelah. Anna panggilan akrab gadis jelita kembang desa itu, dia teman karibku semenjak masih duduk dibangku TK hingga tamat Madrasah Aliyah, saking akrabnya kami hingga kemanapun pergi kami selalu berdua, bagai saudara kandung kata teman-temanku. “Wah ini dia yang ditunggu-tunggu, akhirnya Mahfud datang juga ha ha ha…,” sebuah suara keras menggelegar laksana halilintar disertai tepukan dibahuku datang mengagetkan, rupanya Abah Kaji Ghofur menyambut kedatanganku “Njih Bah, saya baru saja datang dan langsung kemari,” kataku. “kamu pasti lelah, ya wis sana langsung kebelakang saja, makan-makan dulu terus temui Anna dan Umi’, abah banyak tamu,” kata Abah kaji Ghofur berbinar-binar seraya meninggalkanku.

Usai menyapa Abah kaji Ghofur lantas aku masuki rumahnya, banyaknya panitia yang dilibatkan dalam pernikahan ini membuat rumah Abah Kaji Ghofur terasa sesak dipenuhi manusia, padahal untuk ukuran kampungku rumah Abah Kaji Ghofur tergolong sangat besar. Didepan pintu dapur aku lihat Umi’ Karimah sedang berbicara dengan beberapa orang pembantunya, Berbeda sosok Umi’ Karimah yang aku kenal sehari-hari yang murah senyum dan sopan, kali ini raut muka Umi terasa datar dan sendu, seolah dia menyimpan duka nestapa yang sangat dalam, aku tak berani menyapanya, karena aku takut dia akan semakin menjadi beban dibatinnya. Di saat aku Lahap menyantap nasi rawon menu favoritku, sebuah sapaan lirih menyapaku “Baru datang Fudz…?”, rupanya Mi’ Karimah menghampiriku “Injih mi’, tadi dari Pondok langsung kesini,” ujarku sopan, “Fudz aku tahu kamu faham dengan permasalahan ini, jadi aku mohon, beri Anna pengertian yang jelas, agar ia bisa menerima perjodohan ini,” ujarnya memelas. “Mi’ jangan begitu.. kulo jadi ngga’ enak sama panjenengan dan Abah,” kataku merendah, “Fudz, kepada siapa lagi Umi’ dan abah harus memohon, kamulah satu-satunya harapan Umi’, ini demi masa depan Anna juga,” Njih akan saya coba, untuk mendekati Anna, pangestune mawon,” ujarku pelan, usai menyapaku Umi’ Hj. Karimah kembali ketengah-tengah panitia pernikahan. Rasanya tak enak lagi makanku, anganku kembali menerawang beberapa tahun lalu, kala aku dan Anna duduk dibangku kelas 2 Madrasah Aliyah, saat itu Anna tengah memadu kasih dengan seorang pemuda beandala bernama Doni Saputra, parasnya yang rupawan membuat banyak kaum hawa menjadi terlena, termasuk Anna salah satunya. Kala itu Anna terasa benar-benar dimabuk Indahnya cinta dan buai asmara. Namun Anna seperti buta hingga tidak tahu siapa Doni sebenarnya, seorang pemuda berperangai buruk dan malas bekerja, malam-malamnya selalu diisi dengan mabuk-mabukan dan nongkrong dijalanan. Makanya aku kurang setuju kala Anna berpacaran dengan Doni, namun dasar cinta apapun selalu terlihat indah nan merekah, gumanku.

“Assalamu’alaikum….,” Ujarku pelan, sembari aku buka pintu kamar yang berhias rangkaian bunga melati yang menjuntai hingga kelantai “Waalaikum salam, ” terdengar jawaban lirih, nyaris tanpa semangat, “ duh cakepnya sahabatku ini, ” kataku menggoda, “ Mas, pean seperti ga’ mengerti perasaanku ya, pean ternyata sama kerasnya dengan abah, egois dan keras kepala” kata Anna meninggi, aku hampir ta percaya dengan kata-kata yang barusan keluar. Fitria Isfhana seorang gadis lugu temen sepermainanku yang dulu aku kenal periang dan murah senyum, kini jadi seorang yang keras dan egois, “ Ann, maafkan mas Mahfud ya,” ujarku lirih. “terus terang aja mas tak sanggup berkata-kata, percayalah bahwa ini adalah yang terbaik yang diberikan Gusti Allah kepadamu” ujarku menasehati Anna, “tapi Mas, pean kan faham hatiku dan cintaku hanya untuk mas Doni seorang bukan si Dillah itu,” ujar Anna protes, “ Iya mas faham, sangat faham sekali, namun mas mohon dan mas minta untuk kali ini saja, terima saja perjodohan ini, jangan melawan takdir Ann, berdo’alah bahwa ini yang terbaik buat kamu” ujarku, kembali Anna tundukkan kepala dan mengalirlah air matanya, membasahi pipinya.

Aaah… usai sudah semua pelaksanaan pesta pernikahan ini, seharian aku bekerja keras membantu pesta ini, peluh serasa memenuhi seluruh sudut bajuku. Dengan gontai aku langkahkan kaki menuju tumpukan kursi disudut tenda sebelah pelaminan, ingin rasanya sejenak mengistirahatkan kakiku yang terasa bengkak. Terperanjat aku melihat Abdillah, duduk termenung sendirian, sambil membolak balikkan Koran bekas penutup jajan, padahal seharusnya malam ini adalah malam pertama bagi sepasang pengantin, tapi ini justru malah duduk sendirian disini, trenyuh aku melihatnya, “lho pengantin baru kok duduk sendirian,” ujarku seraya menggoda, sapaanku yang datang tiba-tiba membuat Dillah terperanjat kaget, “ eh iya Mas, belum ngantuk…,” ujarnya lirih, sayu matanya begitu terlihat menandakan ia sangat kelelahan, “Eh udah sholat Isya’ belum,?” ujarku bertanya, “udah mas, sampean,?” katanya balik bertanya “Udah juga, eh dari pada kedinginan disini, ayo duduk-duduk di Mushola gimana,?” ujarku menawarkan, “monggo…”jawab Dillah singkat. Akhirnya kami teruskan ngobrol kami di dalam Mushola mungil di samping rumah Abah Kaji Ghofur, banyak sekali yang kami bicarakan, mulai dari masa kecil kami yang penuh dengan canda, hingga kisah-kisah indah dipesantren, tak terasa jarum jam menunjukkan pukul 01.00 WIB. “Mas Dillah, saya kenal Anna, kala ia duduk di bangku TK, hingga lulus Madrasah Aliyah, jadi saya faham betul karakter dan tingkah lakunya, saya mohon sampean lebih bersabar menghadapinya. Saya sangat yakin, nanti dia akan luluh hatinya,” ujarku menasehatinya, “Iya mas, pangestune sampean, saya sendiri pasrah dengan pilihan orang tua, saya hanya mampu berdo’a semoga ini yang terbaik, meski saya faham dik Anna sebetulnya sudah punya pacar,” ujarnya memelas “ Fiuuh… aku juga heran sama Anna, mengapa dia begitu cinta dengan lelaki kampret seperti Doni itu, padahal sudah ratusan kali aku mengingatkannya, tapi tetep saja dia bandel, pean yang sabar ya,” ujarku sambil menghela nafas.

“Assalamua’alikum,” ujarku sembari membuka pintu kamar pengantin itu dengan penuh hati-hati, “Wassalamu’alikum,” jawab Anna dengan lirih, matanya sembab dan jilbab yang di pasang asal-asalan, menandakan semalam ia isi dengan tangisan, “Ann, Mas pamit mau berangkat ke Pondok lagi, karena mas izinnya Cuma dua hari saja, jadi mas harus segera kembali ke Pondok,” kataku sambil menunduk, dengan setengah terperanjat Anna berkata “Mas teganya sampean tinggalkan aku seperti ini, disaat aku butuh dukungan dan aku butuh teman untuk berkeluh kesah,” katanya sambil memelas, sorot matanya sangat tajam membuatku luruh dan mengurungkan niatku untuk berangkat buru-buru “Anna, sekali ini saja mas Mohon dengarkan kata-kata Mas,” ujarku menasehati, kembali air mata Anna mengalir dipipinya “Jujur saja Mas sangat berbahagia ketika kamu bersanding dengan Abdillah,” ujarku dengan berhati-hati dan sangat pelan, “Tapi mas…,” ujar Anna mencegah “Anna dengarkan mas dulu !!!, dalam mencari pasangan hidup jangan pernah melihat dari satu sisi saja, kamu juga harus melihat masa depan kamu, nasib Abah dan Umi mu, juga yang paling utama masa depan anak-anakmu kelak,” ujarku dengan tegas, terlihat Anna kaget dan heran dengan kata-kataku barusan, “Coba bayangkan seandainya kamu menikah dengan si Doni, apa yang akan kamu dapat hah…,” ujarku sambil memalingkah wajah “ Sadarlah Anna, kamu telah mendapatkan anugerah suami yang jujur, polos dan alim seperti Abdillah,” kembali Anna tenggelam dalam tangisnya, “Semalaman mas ngobrol dengan dia, dari situ mas fahami karakternya, sifatnya dan keilmuannya, meski dia gayanya ampong dan norak, tapi dia jauh lebih baik dari pada si Doni…,” Ujarku dengan setengah membentak “Mas, kenapa mas membela dia dan Abah?,” ujar Anna Protes, “Anna sekali lagi mas mohon, tolong terima Abdillah apa adanya, Mas mohon Anna, demi masa depanmu kelak, Mas jamin kamu akan bahagia dengan semua ini,” ujarku menyudahi pamitan ini.

****
“Assalamu’alaikum…,” ujarku dengan suara keras, besarnya rumah Abah Kaji Ghofur membuat orang yang mengucapkan salam, harus dengan suara yang lantang, agar kedengaran sampai belakang, “Assalamu’alikum,” ujarku lagi, “Wa’alaikum salam,” terdengar suara Anna memnajawab dengan semangat “eh Mas Mahfudz, masuk saja Mas, waduh sudah liburan ya, Mas Dillah sayaaang…. nih Mas Mahfudz datang,” ujar Anna dengan riang manja, dengan terbengong aku lihat raut muka Anna kini jauh berbeda dengan kala aku tinggalkan beberapa bulan yang lalu, ceria bahagia dan senyum terus mengembang menghiasi wajahnya, “Masuk mas, pean kapan datangnya, kok ga’ bilang-bilang kalo mau liburan,” ujar Abdillah menyambutku, “eh.. anu baru sore tadi datang, langsung maen kesini kangen sama kalian berdua,” ujarku gugup, “Silahkan duduk mas, bentar saya tak matur Abah,” kata Abdillah sopan, sepeninggal Abdillah aku dekati Anna dan berbisik “Anna kok bisa…” ujarku penuh heran, “ he he he, aneh pean mas, kan dulu yang menyarankan agar saya menerima mas Abdillah apa adanya kan pean, kok sekarang jadi balik bertanya” ujar Anna mengejek, “mbuh nduk aku ga mudeng, kok bisa sedrastis ini sikapmu” ujarku bertambah heran, “Terima kasih mas telah bukakan hati Anna di hari itu, Anna coba menerima mas Dillah apa adanya, dan setelah itu Anna baru tahu kalo ternyata Mas Dillaah orangnya sangat baik hati dan penyayang,” kata Anna dengan berbinar matanya, “Mas Mahfudz pean tunggu bentar ya, Abah masih sholat,” kata Abdillah sambil berjalan “Iya ga papa, beliau jangan diganggu, aku malah pengennya ngobrol sama kalian bedua, Eh Dillah gimana rasanya, kok meneng wae,” kataku menggoda, “waaah, rugi Mas kalo pean ga’ cepet-cepet nyusul, poko’e ga’ kebayang rasanya,” jawab Anna dengan manja sembari melirik mesra Abdillah. Alhamdulillah desahku dalam nafas, terima kasih Ya Allah, telah Engkau tunjukkan keagunganmu dihari ini, sebuah pertautan cinta Indah yang bertabur Ridlo dan Restumu.

Dan kini setelah 6 tahun berjalan, hingga mereka mempunyai buah cinta seorang putra bernama Shalahuddin Al Ayyubi, kisah indah cinta mereka tetap berlanjut, malah makin mesra, bagaikan anak muda yang sedang dimabuk asmara. Aaah perjodohan tak selamanya kelam, batinku berujar.

15 Ramadhan 1431 H

M. ARIF NOER
Malang Kamar J.19

Rabu, 27 Oktober 2010

Mbah Maridjan


Tokoh Fenomenal Mbah Maridjan Wafat

Selasa, 26 Oktober 2010

TERNYATA ISLAM BUKAN HANYA MILIK FPI

Kritik ringan bagi kelompok Islam Fundamentalis

Dewasa ini, ketentraman dan suasana kondusif pada beberapakota besar di indonesia, mulai terusik kedamaianya,seiring dengan hadirnya sifat arogansi dan keras dari sekelompok komunitas masyarakat yang mengaku sebaai penyelamat agama islam, komunitas inibernama FPI(Front Pembela Islam).
Tidak ada informasi komplit tentang keberadaan komunitas ini, namun satu benang merah yang dapat kita ambil dari kelompok pimpinan Habib Riziq ini.mereka hadir sebagai kelompok garis keras pembela terhadap norma noma dan kehormatan agama Islam. Tindakan mereka pun terglong nekad dan brani, terbukti pada bulan romadn kemarin entah berapa buah bar, discotic, tempat judi, biliyard dan bahkan restoran, yang telah dihancurkan kelompok ini dengan cara merajia semua tempat-tempat yang mereka anggap penuh dengan kemaksiatan, dan dengan dalih demi menghormati bulan suci romadon dan menyelamatkan agama islamdan negara indonesia dari kemaksiatan yang semakin merajalela di masyarakat akhir akhir ini. Mereka memporak porandakan setiap benda yang mereka anggap sebagai barng maksiat.
Sebagai umat islam sebenarnya kita merasa bangga dan bahagia, karena telah hadir sekelompok penyelamat kehormatan dan harkat martabat agama islam. Dimana, saat ini di mata internasional, dewasa ini agama islam sering dipingirkan keberadaanya, karena perbuatsan beberapa teroris yang telah mengoyakkan berbagai belahan dunia. Terlebih lagi pasca runtuhnya menara kembar WTC di new york Amerika serikat, mereka (baca; FPI) hadir dan seolah olah mengobati kerinduan kita terhadap masa pemerintahan masa Nabi dan khulafaa Urrosidin berkuasa, dimana saat itu hukum diterapkan betul betul optimal dalam setiap persendian kehidupan bernagara dan berkeluarga, dan saat itulah satu masa, dimana maksiat adalah musuh besar yang wajib dijahui dan dihindari adanya.
Namun apabila kita berkaca pada “kitab suci” negara indonesia yang bernama UUD 45, hati kita pasti timbul sebuah kejanggalan dan tanda tanya besar, pantaskah kita sebagai warga indonesia yang baik, membiarkan sebuah kelompok kecil masyarakat merusak dan menghancurkan fasilitas pribadi atau kelompok milik orang lain.? disinilah timbul sebuah dilematisasi bagi kelopok masyararakat yang lain, apakah mereka berpihak kepada FPI degan jalan membiarkan mereka menghancurkan fasilitaas, baik umum maupun pribadi, ataukah mereka berpihak pada pemilik bar, discutik biliyar dan lain lain. ysang tentunya jelas jelas mereka melakukan kemaksiatan apalagi di bulan suci romadlon yang sangat dihormati umat islam.
Sebasai langkah perventif, sudah seharusnya kita sebagai generasi muda umat islam, mengantisipasi gejolak yang kerap kali terjadi di masyarakat, seprti kasus di atas. Tentunya kita memahami dan mengerti, bahwa tindakan dari FPI tersebut adalah sebuah upaya secara fissik untuk melawan kebatiln yang semakin tak ter kendali. Namuun sayang persepsi yang timbul di masyarakat yang dapat kita ambil adalah justru perilaku dan tindakan mereka seakan akn memunculkan sifat egoisne pribadi yang sangat tiggi, dan amat terkesan sangat eksklusif, mementingkan kepentingan diri dan kelompoknya, dan yang lebih parah adalah seakan akn islam hanya milk FPI dalam arti kata bebas, mengaku sebagai pihak yang paling benar diantara komunitas/ kelompok muslim yang lain tanpa mencoba berdialog dan berdiskusi dengan pihak pihak yang terkait dengan permasalahan yang timbul.
Bahkan jarang tindakan ini berujung pada kerugian baik fisik maupun materi pada pihak-pihak tertentu,
Seperti hilangnya mata pencaharian bagi mereka yang menggantungkan pekerjaannya di tempat tersebut, bahkan ada yang terluka berat karna dianiaya beramai-ramai pada saat razia berlangsung.
Sebagai solusi, terdapat sebuah langkah antisipasi dini yang mungkin efektif apabila diterapkan secara optimal diantaranya adalah:
Pertama: sebagai organisasi islam, sudah seharusnya, FPI mengedepankan akhlakul karimah kepada kelompok-kelompok lain dimasyarakat, khususnya masyarakat non muslim demi menciptakan perdamaian, dengan jalan melakukan dialog terbuka dan diskusi bebas dangan pihak-pihak terkait, untuk mencari solusi yang terbaik tanpa harus menggunakan kekerasan fisik guna menyelasaikan suatu permasalahan.
Kedua: menghimbau semua elemen yang dirasa berperan aktif dalam permasalahan tersebut untuk senantiasa menghormati pada semua perkara yang urgen disakralkan oleh umat islam khususnya di bulan suci Ramadlan.
Ketiga: mengadakan konsultasi dengan pemerintah, sebab sebagai penguasa yang memfasilitasi ragam kebutuhan rakyat sudah barang tentu pemerintah paham dengan kondisi masyarakat di daerahnya dan disitulah akan timbul sebuah kesepakatan bersama guna menciptak kedamaian yang kondusif, aman dan terkendali bagi masyarakatnya.

Penulis adalah Arief Nur kelas 1 Aliyah, J.13 Hp. Malang


Tulisan ini dimuat di Mading Hidayah tahun 2006

Selasa, 19 Oktober 2010

Istiqomah Atau Tak Berubah


Bilik Djiwa 20 Okt

Inspirasi yang terbunuh, mungkin kilas kalimat itulah yang tepat bagiku, tak ada celah untuk mencoba bangkit dan membangkitkan asa, padahal nun jauh disana perubahan telah bergeliat, mengapa tidak mencoba barang sebentar saja... mungkin dengan perubahan ini kita akan menemukan format yang bagus demi meningkatkan kwalitas rumah yang kita cintai ini, mengapa tidak kita gunakan senjata yang ada untuk membuat alat-alat baru yang lebih indah dan mencari makanan baru yang lebih lezat. Mengapa kita mesti takut senjata akan melukai, jika kita memang faham dan mengerti penggunaannya.

Bagaimanapun perubahan dan pembaharuan harus kita ikuti, jangan hanya terkungkung pada sebuah pemahaman yang sempit dan egois. Justru seharusnya kita mencoba mengimbangi daya saing dengan apa yang kita punya. Tapi jangan memberangus semua perisai kita, sebab justru dengan perisai itulah kita menjadi beda dengan mereka. Baju boleh bersarung dan berkoko, namun pemikiran intelek harus kita punya.

Ilmu boleh Salafi tapi sistem harus modern,...
Marilah kita coba mengaplikasikan data base dalam pendataan,
Menerapkan komputerisasi dalam pembayaran,
Secara online dalam informasi....
Agar kelak rumah besar ini tidak hanya menjadi bangunan sepuh yang penuh dengan sejarah, tapi juga menjadi kawah bagi lahirnya insprator muda, Intelek pesantren yang handal dan Organisatoris yang tangguh.

Imam ghazali berkata : Jika rumahmu dekat dengan sungai maka ajarkanlah ia berenang agar ia tak tenggelam esok hari, jangan malah engkau takut-takuti.
Jika hidupmu memasuki zaman teknologi coba pahami dan mengerti, agar kelak engkau tak terjebak dan tertipu lagi.

Khidmah dan istiqomah adalah konsekuensi
Namun inspirasi jangan pernah berhenti...

Ngapunten.....
Aku terlalu cinta kamu lirboyoku...

Rabu, 06 Oktober 2010

TAUBATAN NASUHA


Entah berapa banyak dosa yang telah aku lakukan, dan sekaligus betapa besar dosa yang telah aku perbuat, namun tetap saja rasa hati ini nyaris tanpa penyesalan, padahal sudah teralu besar dan memalukan aku dan keluargaku...
sebetulnya aku sangat tidak layak dikatakan sebagi seorang santri bila aku ingat kembali betapa banyak dosa yang aku lakukan.
Ya Allah gusti, andai waktu bisa terulang, ingin rasanya aku hentikan semuanya agar tak lagi menjadi penyesalan sesaat..
Ya Allah tuhanku bukakanlah pintu hati ini, agar dosa-dosa yang lalu dapat jenengan ampuni, dan aku tak melakukannya lagi...
berikanlah petunjukMu, agar hidup ini tak lagi dalam bayang-bayang dosa yang teramat menyiksa.

Allahummaghfirli alaa kuli dzunubzi...
Hapus semua dosaku ya Allah....

Rabu, 26 Mei 2010

JALAN TERJAL MENUJU PERUBAHAN

Meski berat dan sangat terasa berat, tapi akan ku perjuangkan bentuk dan model LIrboyo yang lebih dinamis, kuat dan moder. Tanpa harus mengesampingkan tatanan yang ada, semua harus berjalan dengan seimbang.

Meski ini mendapat tentangan dari banyak pihak namun kuyakin aku akan berhasil ... amin

Jumat, 23 April 2010

SUKSES UNTUKMU WAHAI ADIKKU


Hari ini merupakan hari yang besejarah bagi keluargaku, adikku M. Lukman SH akan meninggalkan kampung halaman untuk mengemban amanat dari Negara, angan dan cita-cita yang selama ini ia bangun dan angankan telah ada digenggaman tangan, selangkah lagi ia akan menjadi sosok yang dibanggakan oleh keluarga sederhanaku.

Meski kepergiannya untuk menyongsong tugas dan tentunya akan membanggakan bagi keluarga, namun aku yakin ibu masih diliputi rasa cemas dan rasa rindu yang mendera, sebab selama ini adikkulah yang dekat dengan ibu, memahami bahasanya dan bisa membimbingnya. Itulah salah satu alasan aku tidak ingin pulang walaupun hanya sekedar untuk mengucapkan selamat jalan kepada adikku, sebab aku tak mau larut dalam kesedihan karena melepas keopergiaannya tuk capai cita-citanya yang mulia.

Do'aku akan selalu menyertaimu dik, semoga tercapai apa yang selama ini kau inginkan dan apa yang selama ini kau banggakan.

Untuk Adikku tersayang M. Lukman SH.

Senin, 29 Maret 2010

DI USIAKU YANG TIGA DASAWARSA

Dasawarsa ke 1
Pada fase inilah, aku mulai bisa menerjemahkah bahasa dan tulisan, dengan bimbingan khas orang tuaku, awalnya aku merasa, beliau berdua bagaikan dua orang algojo yang kejam nian, menghajar, mendamprat dan menyiksa diriku, Pengawasan yang berlebihan terkadang membuat aku jenuh dan berontak, namun aku tak sadar jika sebenarnya itulah tameng dasar yang bapak dan ibu berikan.
Pada saat-saat itulah, aku belajar kehidupan secara dasar kepada lingkungan sebayaku, meski aku rasakan kesederhanaan (bahkan mungkin bisa dikatakan miskin materi) dalam kehidupanku, namun aku tak sadari, bahwa kelak itulah gemblengan awal untuk mencapai predikat mandiri.

Dasawarsa Ke 2
Dalam fase kedua ini, layaknya insan muda yang sedang dirundung asmara, hari-hariku banyak dipenuhi puisi-puisi roman dan kata-kata pujian bagi sang dambaan. Aku terlalu polos dalam berfikir dan terlalu jujur dalam berkata, hingga suatu ketika aku terjerembab jatuh dalam kubangan putus asa, butuh waktu lama untukku agar bisa bangkit lagi, sungguh sakit kala aku ingat saat itu.
Dalam fase inilah, aku mulai benar-benar bangun dari tidur panjangku sebagai manusia, hal ini berawal kala sang penuntun jiwa yang bernawa Ustad Nuryatim, pergi untuk selama-lamanya, bapak wafat dalam usia 54 tahun, usia yang sangat muda untuk meninggalkan aku, disaat aku masih benar-benar butuh pituturnya. Namun dibalik hijrahnya bapak, aku temukan hikmah besar... aku bisa mandiri.


Dasawarsa ke 3
Fase inilah, aku benar-benar bangkit!
Dimulai dengan hijrahku ke Ma'had super agung bernama Lirboyo, awalnya sangatlah berat bagiku untuk memulai hidup baru yang serba mandiri ini, penuh penderitaan dan penyesalan, kok ga dulu-dulunya aku berangkat mondok. meski terengah-engah dengan kondisi otak yang dibawah rata-rata ini, aku tetap berusaha merangkak bahkan tiarap, untuk dapat mengejawentahkan bahasa kehidupan ini, agar Kehidupan bisa dinamis dan seimbang dengan ilmu addin...
Satu hal pasti, disinilah aku bisa betul-betul mandiri bahkan aku bisa menemukan Jatidiri, Kepemimipinan, norma kesopanan dan entah apalagi yang bisa mewakili kata-kata syukurku atas keberadaanku sekarang ini, mungkin jika gusti Allah tak menunjukkan jalanku di Lirboyo ini, hari-hariku hanya dipenuhi gelak tawa di pojok-pojok perempatan jalan dengan Botol Whisky ditangan kiri dan lintingan ganja di tangan kanan.... Matur suwun sanget Lirboyo, mungkin nyawaku sekalipun, tak akan bisa membalas budi jasa yang telah tersematkan.
Dan kini tepat di usiaku yang benar-benar separuh dari seluruh perjalananku ini, dan dengan semua yang aku miliki sekarang ini, hanya satu yang aku harapkan, mugo-mugo uripku tansah Barokah, tak lebih. Sebab dengan semua yang ada didepanku saat ini, keluarga, harta, Posisi dan teman, sungguh amat sangat sudah lebih dari cukup...
Mugo-mugo, hidupku bukan menjadi benalu dan songgok daging tanpa ruh layaknya seorang pecundang, namun mampu menjadi pelita bagi ibuku, kakak dan adikku, teman dan pastinya Guru-guruku. Semoga barokah Amin......

Sabtu, 13 Maret 2010

PERKENANKAN AKU MATI


Entah dihari ini, mengapa segalanya terasa gelap bagi mataku, aku bagai hewan yang tak ada guna dan manfaat, aku hanyalah benalu yang tak lebih berharga dari seonggok daging anjing. Aku hanyalah sampah bagi pondokku yang agung ini, aku hanyalah membawa aib bagi keluargaku, aku hanya mampu bersuara tanpa bisa melakukannya

Duh gusti, perkenankanlah hambamu ini hijrah dari dunia yang benar-benar fana ini menuju dekapanmu yang maha suci dan tanpa lagi harus menanggung beban hati, pikiran, dan perasaan. Hambamu yang bodoh dan hina ini tak ingin lagi tersiksa dalam dosa yang memuncak, hamba tak lagi sanggup untuk berbuat dosa lagi, hamba tak mau lagi beribadah dengan kebusukan dan kebohongan lagi, hamba menginginkan kebahagian yang haqiqi. tanpa harus menggung beban hidup yang tiada tara berat dan rasanya.

Ya Allah tuhan yang maha sempurna hamba memohon kepadamu, jika hidup hamba kelak tak lebih baik dari hari ini, hamba mohon renggutlah nyawa hamba agar tak lagi dosa bertumpuk dan bertumpuk lagi, namun jika hamba kelak dapat hidup dengan beribadah secara kaffah, maka perkenankanlah hamba untuk betul-betul hidup untuk memulyakan agama yang engkau ridloi….