SELAMAT DATANG

Assalamu'alaikum Warahmatullohi Wabarakatuh

Selamat datang para pengelana dunia maya.
Selamat datang diduniaku, dunia sederhana yang dipenuhi dengan kebebasan dalam berekspresi,
namun tetap mengedepankan Ahlaqul karimah,
tanpa takut oleh tekanan dari manapun, dan jauh dari diskrimininasi budaya, hukum, martabat, derajat dan pangkat.

Ini adalah suara murni hatiku,
yang terangkai dalam dalam bentuk kata-kata,
entah jelek entah bagus, namun inilah aku yang jujur dalam berfikir dan berkata.

Moga ada guna dan manfaatnya

Amin Amin Ya Robbal Alamin

Selasa, 19 April 2011

RADIKALISME, JIHAD ATAUKAH JAHAT

“Duaaarrrr”, sebuah ledakan keras menyalak ditengah-tengah Jamaah Sholat Jum’at di Masjid Adzzikra komplek Mapolresta Cirebon pekan lalu. Asap hitam pekat mengepul memenuhi ruangan masjid tersebut, akhirnya sholat Jum’at pun batal dilaksanakan, karena seluruh Jamaah masih shok, akibat ledakan itu beberapa tubuh terhuyung roboh bahkan sebagian diantaranya terpental jatuh, Pak Kapolresta sendiri yang notabene adalah siempu Markas tersebut juga roboh, beberapa serpihan bom menancap di punggung dan kepalanya.

Beberapa saat usai kejadian tersebut, Polisi langsung menggelar Investigasi, dalam hitungan jam identitas pelaku Bom Bunuh diri berhasil diungkap. Dan hasilnya… masih saja kelompok Radikal yang menjadi pemain utama peristiwa tragis ini, umurnya masih muda namun pemikirannya sudah sangat radikal dan menganggap kelompok lain Kafir dan layak masuk Neraka. Masya Allah.

Beberapa point sederhana dapat kita petik dari penggalan peristiwa diatas, Pertama, Kelompok radikal ternyata tetap eksis dan istiqomah dalam menyuarakan pendapatnya tentang Islam Garis keras, sehingga kelompok-kelompok lain yang tidak sefaham dianggap kafir dan layak dibunuh, apalagi jika kelompok lain tersebut adalah Abdi Negara, seperti Polisi. Kedua, Cara-cara klasik namun sadis tetap menjadi cara terfavorit untuk mewujudkan rencananya, salah satunya adalah bom bunuh diri. Sebab mereka beranggapan hanya dengan kematian dijalan syahid mereka akan segera menemukan kebahagiaan yang haqiqi, sehingga predikat syuhada akan tercapai dan akhirnya di tempatkan diantara barisan Mujahidin. Ketiga, Menghalalkan segala macam cara, mungkin itulah salah satu usaha yang sedang getol mereka lakukan, bahkan ada yang merampok dan membunuh aparat, demi tersedianya suplai dana untuk membeli senjata. Keempat, Target operasi mereka kini lebih variatif. Jika pada fase-fase awal merebaknya kelompok ini, kita mengetahui bahwa hanya tempat-tempat maksiat dan aset-aset non muslim yang menjadi sasaran utama, namun kini lebih berwarna dan mengarah kepada fasilitas-fasilitas umum seperti Mall, Pasar, Kantor Polisi dan kasus terbaru Masjid.

Melihat realita yang berkembang, sebagai umat Islam yang cinta perdamaian dan Warga Negara Indonesia yang cinta Pancasila, tentunya kita merasa miris dan sedih, dengan semakin berkembangnya kelompok Militan garis keras ini, bisa dibayangkan betapa ngawurnya Jihad mereka ini, apakah bisa dikategorikan dengan nama Jihad jika membunuh sesama muslim dan menghancurkan rumah ibadahnya sendiri. Entah dimana pikiran logis mereka, mungkinkah otak mereka sudah benar-benar terkontaminasi dengan jargon-jargon anti barat yang sebetulnya mereka adalah antek-antek pemikiran barat. Ironis

Minggu, 17 April 2011

KETIKA PENGABDIAN DIPERSIMPANGAN JALAN

Sudah menjadi agenda penting di Pondok Pesantren Lirboyo, sebelum mengakhiri kalender kerja tahunan dan dalam rangka menyusun kepengurusan tahun selanjutnya, maka setiap personal dari para pengurus akan mendapatkan secarik kertas yang bertitel Surat pernyataan diri, secara harfiah, kata-kata yang maktub didalamnya lumayan somple dang a begitu banyak, namun dibalik itu semua, bagi sebagian pengurus, ada dilematis pemikiran yang seragam, akan kemana mereka setelah ini.

Pertanyaan diatas seakan menjadi penggalan kata yang tak pernah bosan di ucapkan, karena panjang dan penuh liku maknanya, sebab bagi mereka pengabdian adalah sebuah karunia dan amanat, namun tak dapat dipungkiri bahwa keadaan ekonomi di rumah membutuhkan uluran tenaga. Setidaknya itulah sedikit keluh kesah rekan kerjaku, dan masih banyak lagi suara-suara lain yang mungkin senada dengan kata-kata tersebut.

Dibagian lain, seorang rekan karibku yang engabdi menjadi pengajar, malahan jelas-jelas di perintahkan boyong oleh orang tuanya, dengan dalih mempersiapkan tatanan ekonomi jelang pernikahannya. Terang saja ia menjadi gundah gulana, sebab ia masih merasakan saat-saat bahagia bersama dengan anak didiknya yang baru 2 tahun ini ia berkumpul.

Berbagai cara di gunakan untuk mencari solusinya, mulai dari Istikhoroh, konsultasi dengan keluarga besar hingga sowan ke Masyayikh. Dan akhirnya ada yang berakhir sesuai dengan harapan, ada juga yang kudu memupuskan angan, karena mungkin harus meninggalkan pondok tercinta ini dan berpindah lokasi pengabdian dari pesantren sekarang langsung di masyarakat.

Jumat, 01 April 2011

BERBISIK DIKALA HATI TERUSIK

Entah untuk keberapa kalinya, sorot mata sinis itu memandangku, padahal meski sudah aku anggap itu adalah bagian dari nafasku yang sepertinya sudah maklum terjadi, tapi nyatanya tetap saja menyakitkan dalam hati. Aku bagaikan musuh tak berarti yang tiap kala bergerak harus selalu diamati, tutur kata singkat namun pedas kerap kali menghiasi raut wajahnya, sehingga sempurnalah rasa kecewa dalam hatiku.

Mengapa ia selalu bersikap manis dan bersahabat, kala ia butuh bantuan. Mengapa ia bertindak sopan ketika ia mengharapkan uluran. Kemanakah sifat-sifat kerasnya. Ouwh… ternyata manis sekejap mata, lantas aku dibuang percuma.

Padahal kita tidak berbeda, kita satu dari nafas yang sama, tapi mengapa….

Apakah karena kemampuan nalarku yang terlalu rendah ?

Apakah mungkin karena tutur kataku yang seperti sampah ?

Dan apakah itu semua menyebabkan kau gelisah ?

Baik.. baik... Jika itu yang buatmu gundah, maka Izinkan aku pergi kedunia khayalku, jika aku mengusik duniamu. Biarkan aku menjadi diriku sendiri, tanpa harus mengikuti dunia Ningrat seperti ini. Aku ingin jujur berkata Aku. Bukan buaian dengan kesombongan dan kemunafikan diri, yang membohongi nurani kita yang paling dalam.

Duniaku adalah duniaku bukan duniam!!!!!

Rabu, 23 Maret 2011

JAUH

By Caramel :

Pernah ada rasa cinta
Antara kita kini tinggal kenangan
Ingin kulupakan
Semua tentang dirimu
Namun bayangmu slalu ada dalam setiap langkahku

Jauh kau pergi meninggalkan diriku
Disini aku merindukan dirimu
Kini ku coba mencari penggantimu
Namun tak lagi kan seperti dirimu oh kekasih

Masih terlintas dimataku

Bambaran wajahmu yg kini tinggal kenangan
Ingin kulupakan semua tentang dirimu
Namun bayangmu ada dalam setiap langkahku

Sabtu, 19 Maret 2011

SERAK PARAU SEORANG JOMBLO


Satu persatu teman sejawat meninggalkan aku memasuki gerbang itu, tak terasa temeraman sinar yang bergemerlapan kini mulai pudar berganti senja, huft… kala melihat senyum-senyum indah yang merekah dipelaminan itu, dada sesak penuh dengan berjuta tanda tanya, kapan aku?

Entah kenapa aku masih saja bertahan dengan kesendirianku menatap sang mentari, padahal disana gelak tawa dan canda mewarnai biduk rumah tangga. Aaaach…. kembali aku kembali dengan gontai menapaki kehidupan ini dan mengumpulkan serpihan semangat yang tercecer di relung hati.

“Perjaka tua silahkan simpan tenaga…”, duuuhh, teriris rasanya bongkahan hati ini kala mendengar kembali untaian kata singkat itu, seakan tempaan mental yang di gembleng tiap saat, terapi kesabaran yang selalu diuraikan tiap hari seakan musnah tanpa sisa berganti emosi. Ya emosi, ingin ku tonjok tanpa ampun mulut-mulut sombong itu.

Tolong beri aku waktu untuk berfikir, jangan kau protes aku dengan cercaan tanpa guna dan intimidasi tanpa daya, semua ada waktunya, hari yang indah itu pasti datang, meskipun jujur saja aku pun tak tahu kapan waktu itu dan dengan siapa aku akan bersanding.

Dalam ketermenunganku, kerap kali hati ini berujar lirih pada sang Khalik, ”Duh Gusti... Engkaulah dzat yang maha mengerti kekurangan hamba, maka tutupilah kekurangan hamba dengan hadirnya insan yang bisa dan mampu melengkapi hidup hamba”.

Agar hamba mampu menggapai impian yang tertunda, ya impian yang tertunda..... bukan impian ilusi tapi impian haqiqi.

Kamis, 17 Maret 2011

RASA BERSALAH ITU MENGHANTUIKU

Pekat rasanya hatiku kala nalarku menerawang jauh kebelakang, betapa bodohnya aku melakukan dosa yang teramat sangat Berdosa, betapa kejamnya aku tlah khianati ilmu, guru dan orang-orang yang mengasihi aku.

Entah kenapa kala sukma tercekat senyum, semua seakan runtuh tak bermoral dan lebih hina ketimbang hewan.

Kala aku berdiri menghadapNya, rasa ngiku sekujur tubuhku kembali mendera. Mengingat dan mambayangkan adzab besar yang akan kaku sandang kala ku menghadapNya, dalam bisik lirihku, aku berujar, semoga kebodohan itu terjadi hanya sekali dalam hidupku dan tak pernah dan tak akan pernah terulang lagi.

Pengkhianat, duh gusti apakah ini gelaryang pantas hamba sandang, terlalu banyak tutur kata palsu yang hamba lontarkan, pantaskah hamba dihormati manakala setan masih bercokol disanubari, masihkah aku layak disebut santri jika tak mampu mengendalikan hawa nafsu.

Duh Gusti ingkang Murbo Maseso, hamba sepertinya tak mampu jika hidup dalam lumuran dosa, maka hentikanlah detak jantung hamba, agar tak lagi berbuat dosa, tutuplah mata hamba agar tak lagi melihat dengan lirikan nafsu, kumpulkanlah hamba dengan orang-orang yang selalu mendendangkan namamu hingga merasuk kerelung kalbu.

Berikan hamba kenikmatan yang haqiqi buka sekedar ilusi, cinta suci nan sejati kepada jenengan Gusti juga kepada kanjeng Nabi

Sabtu, 12 Maret 2011

Kala Kerja Kerasku Tak Dihargai

Berbulan-bulan lamanya aku susun hasil Ijtihadku dalam penggalan buku ringan, dengan harapan orang-orang yang ada disekitarku akan jadi lebih mudah melihat ada apa dibalik keringatku, namun setelah semua yang aku kumpulkan itu sekarang justru menjadi barang rongsokan dan tak berguna, bahkan untuk sekedar hadir dalam majelis yang aku selenggarakan, mereka tak mau hadir, sakit rasanya aku melihat kenyataan ini, padahal berhari-hari dengan pikiran yang terbatas aku kerjakan semua ini. Sunguh pedih kiranya sakit didada ini kala mengetahui kerja kerasku tak dihargai.

Emosiku lagi mendidih...!!!! hhhhhh...

Kamis, 03 Maret 2011

VIRGIN Masihkah Perlu Dipertanyakan


Syahdan, tersebutlah seorang gadis muda yang jelita, sebut saja namanya Andien, parasnya yang cantik, cerdas dan pandai bergaul, membuat banyak arjuna menjadi jatuh hati padanya. Suatu ketika seorang jejaka rupawan dari kampung sebelah hendak menyuntingnya, sebut saja nama Adi, pemuda berwajah tampan anak seorang juragan padi. Tatkala Adi hendak melamar, Andin meminta waktu untuk bersua dengannya, disaat mereka telah bertemu, dengan jujur dan polos Andin memohon agar apa yang akan disampaikannya betul-betul dapat diterima oleh Adi, Andin juga menyampaikan jika setelah ini Adi akan meninggalkannya atau menerima keadaannya, andin pasrah, namun ia juga menegaskan andai kata Adi bersedia menerima keadaannya ia memohon agar keadaannya tidak diungkit-ungkit dikemudian hari, dengan dipenuhi berjuta-juta rasa penasaran Adi menerima begitu saja syarat yang diajukan oleh Andin. Tibalah perjumpaan itu pada kalimat yang begitu menyesakkan dada Adi, dengan jujur Andin mengaku bahwa ia sudah tidak perawan lagi, sampai beberapa saat Adi tertegun, ia seolah tak percaya dengan apa yang baru didengarnya, dengan pasrah Andin menyerahkan keputusan selanjutnya pada Adi, sudikah membina rumah tangga dengannya ataukan ini semua mesti diakhiri, dengan jujur Andin juga menyampaikan bahwa ia tidak berbohong untuk sekedar menghindar lamaran dari keluarganya, namun ia hanya ingin calon suaminya mengetahui keadaan yang sebenarnya. Tanpa permisi Adi meninggalkan Andin, dengan gontai ia merasakan hatinya tercabik dan sakit, bagaimana mungkin gadis seanggun Andin bisa kehilangan kehormatannya, tanpa terasa air mata Andin meleleh, dalam desahnya ia tersenyum bahagia, meski hati terasa sakit ia yakinkan hatinya bahwa jika pernikahan itu diteruskan, kepedihan hari ini tidak sebanding dengan kepedihan kelak dihari kemudian.

****

Meski dewasa ini Masalah Virginitas (keperawanan :Red) tidak lagi menjadi titik point yang layak untuk perdebatkan, namun masalah keperawanan kerap kali menjadi masalah besar yang dapat mempengaruhi hubungan suami istri, karena masalah itulah komunikasi sebuah keluarga dapat terganggu dan hilanglah keharmonisan yang telah terbina, sering kali pertengkaran-pertengkaran kecil bermula dari masalah ini, dan akhirnya timbulah masalah besar seperti status janin yang dikandung istrinya dan masalah maraknya kasus perceraian dini. Berkaca dari penggalan kisah nyata diatas, menegaskan bahwa komunikasi dengan dilandasi kejujuran sangat perlu dilakukan, agar kedua belah pihak dapat menerima kondisi yang sebenarnya dan dapat membina rumah tangga tanpa ada rasa bersalah atas tinta hitam yang pernah menghiasi lembaran kehidupan. Namun sayang kejujuran pranikah tersebut, terkadang disalah artikan oleh beberapa pihak sebagai bentuk diskriminasi terhadap perempuan, benarkah asumsi tersebut?

Tulisan berikut mencoba memberikan sedikit sumbangsih pemikiran, agar wacana diskriminatif dapat dipahami secara dewasa dan penuh logika.

Keperawanan ibarat mahkota indah yang tak akan pernah tertandingi nilainya, sehingga kala seorang wanita kehilangan mahkota indahnya, maka hilanglah harga dirinya, karena mahkota yang selama ini menjadi kehormatan bagi dirinya ternyata telah lenyap, selain itu keperawanan merupakan amanah dan tanggung jawab dasar yang harus dilaksanakan seorang wanita. Pada fase inilah masalah keperawanan menjadi bukti awal akan komitmen menempuh hidup baru, dengan asumsi sebagai berikut. Ketika ia belum diberi tanggungjawab agung, berupa tugas mulia bernama Istri, belum disematkan dipundaknya saja, ia telah berani melakukan hal-hal diluar wewenangnya, satu diantaranya adalah pergaulan bebas, maka bisa dibayangkan tatkala ia memasuki lembaran baru yang bernama pernikahan, maka dikhawatirkan pernikahannya akan berhenti ditengah jalan karena peristiwa serupa akan terulang kembali, bahkan mungkin lebih parah lagi.

Selanjutnya, apabila ada pihak yang menganggap bahwa kejujuran pranikah menjadi alat diskriminatif terhadap kaum hawa, itu merupakan anggapan sepihak, karena justru dengan kejujuran semacam itulah, seorang wanita akan lebih diakui kehormatannya. Lantas bagaimana dengan wanita yang telah terenggut kegadisannya ? Sebagai bentuk konsekuensi atas kesalahan fatal yang pernah dilakukan oleh seorang wanita, sudah semestinya ia harus menerima keadaan dari dosa yang pernah ia perbuat, meski terasa pedih namun kejujuran ini akan menjadi momentum paling dasar untuk menemukan pendamping hidup yang benar-benar siap dan menerima apaadanya. Pertanyaan lain yang akan mengemuka ada kasus ini adalah, mengapa hanya kaum hawa yang harus berkata jujur tentang kondisinya ? Menurut asumsi saya, siapapun berhak sekaligus wajib untuk berkata jujur. Begitu juga bagi wanita, ia berhak bertanya kondisi calon suaminya, sampai yang masalah yang paling Privasi sekalipun yakni status keperjakaannya.

Pernikahan merupakan momen sakral dalam hidup kita, karena begitu mulia dan agungnya nilai pernikahan maka tentunya kita tidak mau, momen yang kita sakralkan ini dipenuhi dengan kebohongan, tentunya kita juga berharap agar pernikahan merupakan momen yang diisi dengan rasa cinta yang tulus tanpa tabir kepalsuan yang akan membayangi dan menghantui setiap langkah kita. Kita bisa bayangkan apa jadinya jika momen tersebut ternyata dipenuhi kebohongan, pastilah rasa sesal yang tiada terkira.

Semoga kita senantias terjaga dari bujuk rayu syaithon yang benar-benar terkutuk, Agar dimasa mendatang kita dan keluarga dapat menjalani kehidupan yang sakinah wa rahmah.

Muhamad Arif Noer

Abiturient ‘07

Jumat, 25 Februari 2011

MARI BERSYUKUR ATAS HIDUP KITA


Nafas ini terhela panjang kala mataku memandang sekelompok hunian manusia di pinggiran rel kota Jakarta, bisa dibayangkan… hanya dengan berdindingkan triplek dan beratap terpal, orang orang ini melewati hari-harinya, luasnya tak lebih bagi 2 orang yang tiduran, tak akan muat untuk berdiri, lebih mirip dikatakan sebagai rumah ayam ketimbang hunian manusia sungguh trenyuh aku memandang ternyata dibalik anggunnya bangunan pencakar langit yang megah tersimpan sebuah ironi yang memilukan, saudara-saudara kita hidup dalam keadaan yang jauh dari kata layak.

Sejenak mari renungkan, betapa beruntung kita hidup dalam keadaan seperti ini, makan tak pernah kurang, kesehatan selalu prima, baju masih bagus, semua apalagi rumah.. bagus dan sangat layak sekali. Cobalah melihat mereka yang keadaannya jauh dibawah kita, sungguh-sungguh kita adalah orang yang sangat beruntung memiliki semua, oleh karenanya tak salah bila Kanjeng Nabi berulang kali mengajarkan kepada kita agar senantiasa melakukan Syukur atas semua hal yang pernah kita terima dan rasakan. Ada banyak cara yang dapat kita gunakan untuk melakukan syukur atas kenikmatan yang kita rasakan, namun yang paling sederhana adalah dengan menyanjung kebesaranNya.

Selain bersyukur dengan ungkapan, ada banyak cara dapat dikategorikan sebagai rasa syukur, salah satunya adalah dengan Instropeksi diri, mengevaluasi diri sendiri… sampai dimana diri kita melangkah, sudah sesuai dengan tatanan dan syariatkah ataukah malah sebaliknya. Disinilah Gusti Allah menunjukkan betapa bijaksananya Dia, karena dibalik segala hal yang kita terima dan kita rasakan, Gusti Allah menunjukkan kekayaan yang ada pada kita, namun sayangnya kadang kita tidak menyadarinya, namun malah mengkufurinya dengan ingkar atas jalan yang menjadi syariaatnya dan malah justru melanggar larangannya(naudzubillah min dzalik)

Mulai detik ini, mari kita tata hati, niat dan langkah kita. Agar tak menjadi sia-sia dan kosong belaka, perbanyak-banyaklah bersyukur, dengan selalu menyanjung namanya, berbagi dengan sesama dan merenung tentang kebesarannya.

Jakarta 25,02,11

Senin, 21 Februari 2011

KEJAMNYA AKU

Hari-hari ini aku dipenuhi peluh desah penyesalan, betapa kejam aku, betapa bodoh aku dan betapa sembrono aku. Sudah tahu jika itu adalah dosa besar, masih tetap saja aku lakukan. Kini hanya penyesalan dalam bingkai istighfar yang dapat aku nyanyikan setiap detik. Ya Allah mengapa begitu ceroboh aku melakukannya….

Ibu maafkan anakmu yang tak tahu terima kasih ini, maafkan aku… ngapunten ibu..

Andaikan saja dengan jiwa ini bias menuntaskan kesalahanku, ananda rela melepaskannya dengan ikhlas, asal ibu berkenan tersenyum memaafkan. Agar kedepan kehidupan ananda menjadi sempurna dengan Do’a ridlomu.

Semoga penyesalan ini menjadi titik awal perubahan kepada masa yang lebih baik, tanpa tersandung cela yang berlebih dan rasa sakit yang terlalu. amin

Jumat, 04 Februari 2011

BENARKAH KITA TIDAK KORUPSI

Maraknya kegitan demo-demo beberapa tahun terakhir menyiratkan betapa banyak masyarakat yang merasa dirinya terdzolimi, sehingga mereka dengan lantang menyuarakan Hak dan harga dirinya yang tertindas atau mungkin juga mungkin mereka memprotes karena figur yang didukungnya kandas dalam pemilihan Daerah. Salah satu bentuk demo yang lumayan marak adalah demo penuntasan kasus Korupsi, sepertinya demo semacam ini sudah menjadi sebuah ikon demorasi di daerah-daerah, disatu sisi menunjukkan kritisnya masyakat akan keadilan dan ini harus kita apresiasikan, namun disatu sisi yang lain demo hanyalah sebuah wahana unjuk diri dan preasure (tekanan) terhadap lawan politik. Namun tulisan ini tidak mau berpolimik panjang tentang jenis dan kategori demo dimasyarakat, akan tetapi tulisan ini justru ingin mempertanyakan diri kita sendiri, apakah kita benar-benar terbebas dari korupsi.

Sering kali dalam setiap jenis kegiatan, kita dihadapkan dengan berbagai tahapan yang berbelit dan panjang, kita sering dibuat jenuh olehnya karena selain membutuhkan waktu yang lama hal tersebut juga menyita konsentrasi. Sehingga tak urung membuat kita mencoba melawati jalan pintas yang lebih simple dan lebih cepat.

Contohnya adalah pengurusan identitas di kelurahan, seringkali kita jumpai tahapan yang menjemukan seperti kurangnya tanda tangan dari pak RT-lah, Foto copy Kartu Keluarga yang kuranglah, hingga pembayaran yang tak sesuai dengan tarif, semuanya seperti berantai untuk menghambat pengurusan.

Disinilah letak strategis pikiran kotor kita mulai bermain, dari pada membuang waktu percuma lebih baik mengeluarkan beberapa lembar puluhan ribu, asalkan tanda pengenal bisa cepat jadi, dan kita bisa melenggang dengan tenang tanpa memikirkan efek yang akan ditimbulkannya kelak dikemudian hari. Yang membuat miris ternyata, inisiatif tersebut bukan datang dari konsumen tetapi malah langsung dari Produsen. Klop itulah ungkapan yang pantas disematkan sehingga mini korupsi menjadi semakin terorganisir.

Itu hanya sebagian kecil dari aktifitas korupsi kita, belum lagi dalam hal pengurusan pendidikan, makanan, hunian dan lain sebagianya, sepertinya korupsi sudah menjadi bagian yang tak kita sadari namun menyatu dalam kehidupan kita. Lantas apakah masih pantas kita dikatakan sebagai anti korupsi dan menghujat orang lain, padahal terkadang untuk melaksanakan demo itu saja kita dibayar agar mau untuk demo anti korupsi, lantas apa makna yang terkandung dalam teriakan-teriakan kita.

Minggu, 30 Januari 2011

KALA UMUR BERTAMBAH (KURANG)

Satu lagi tahun penuh makna telah aku lewati, tahun penuh dengan kenangan indah yang tak akan aku lupakan sepanjang nafasku berhembus. Tahun kemarin aku telah memasuki gerbang paruh ke-Tiga dalam hidupku, sebuah fase yang sangat dewasa dalam tatanan psikologi seseorang, Syukur Alhamdulillah ditahun ketiga puluh itu, banyak sekali kejadian yang telah bergulir dalam hidupku, baik dalam karir, asmara, sampai dengan keluarga. Semua setting ini betul-betul indah konsepnya, hingga terkadang aku terlalu terlena hingga aku melupakan banyak sekali nikmat anugerah dari-Nya.

Kini dalam tahun kedua di dasa warsa ketiga ini, perasaan sepertinya menjadi lebih tertata, hati juga mulai terkombinasi dengan otak. Sehingga bisa mengolah pekerjaan dengan tenang Alhasil kerjaan bisa jadi stabil, terus paling tidak bisa membuat nafasku menjadi lega tanpa beban berat yang berarti. Apalagi kemarin aku menjadi Sektum Lirboyo, pas Se-Abad lagi, wah lumayan berat rasanya, sepertinya semua kerjaan numpuk jadi satu, jadinya tak jarang antara otak dan hati gak nyambung, isinya emosi wae he he he.. Namun Al-hamdulillah meski kadang terseok-seok, secara garis besar semua tugasku berjalan sesuai dengan alurnya.

Sebagai manusia normal, terkadang rasa gundah mendera dalam hati, mengapa hingga detik ini masih saja aku lewati dengan kesendirian, tanpa belahan jiwa disisiku, tanpa seorang wanita yang bersedia mendampingiku. Apalagi tatkala aku bertemu dengan teman sebayaku di sekolah dulu, sepertinya mayoritas sudah berumah tangga, dan sebagian besar sudah mempunyai momongan. Rasanya ngiri juga ketika melihat mereka bercanda tawa, namun semua gelisah dalam benakku aku redam dengan angan dan pikiran jernih, pasti semua ini akan ada waktunya, aku yakin “kompensasi” yang akan diberikan Allah padaku akan lebih indah dan lebih bermakna.

Namun meski beragam kekurangan yang aku sandang, namun tak sedikit anugerah indah yang aku panggul, mulai dari karir yang lumayan fantastis untuk orang berkapasitas rendah kayak aku, sampai dengan anugerah keluarga yang sangat harmonis, ini semua sangat pantas dan wajib di syukuri, sebab hanya dengan bersyukur, kita akan menjadi berinstropeksi diri, agar menjadi yang lebih baik dari sebelumnya dan menjadi lebih sempurna. Matur suwun gusti Allah, ternyata misteri kekuasanmu begitu indah, dan disinilah terlihat betapa adil Panjenengan dalam menata dan mengatur segenap Mahluk. Tak lupa untaian terima kasih juga aku haturkan kepada Ibuku tercinta yang sampai detik ini masih berkenan mendoakan aku, Kakak, adik dan keponakanku tersayang atas kebahagian yang selama ini ada, kepada segenap guru-guruku para Masyayikhku atas gemblengan ilmunya, para sahabat, saudara handai tulan atas keharmonisan yang indah dan pastinya kepada seseorang yag telah aku kecewakan hatinya, karena tak mampu mendampinginya mengarungi hidup.

Doa dan harapanku dalam tahun ke-31 satu ini, semoga Allah mengaugerahkan padaku umur yang panjang, hidup yang penuh dengan Barokah, harta halal yang melimpah, keluarga yang sakinah, hingga istri yang sholihah… amin … amin ya mujibaasaiilin.

Lirboyo pukul 03.21 Wib senin 31 Januari 2011

Jumat, 28 Januari 2011

MEMAHAMI KATA SOPAN SECARA PROPORSIONAL

Sebuah legenda berhikmah dari negeri cina, menceritakan. Dahulu kala hiduplah sebuah keluarga terpandang diibukota, keluarga tersebut mempunyai seorang menantu, yang berpengarai congkak. Pada awalnya sang menantu yang bernama lingling, hidup bahagia bersama sang suami, namun ketika pernikahan mereka menapaki waktu 5 tahun, tampaklah, sifat-sifat asli sang mertua yang angkuh dan suka memerintah. lingling pada awalnya bisa menahan diri untuk menerima sifat buruk mertuanya, “namun kesabaran manusia ada batasnya” demikian pikir Meiling, akhirnya dia berontak dan melawan sifat buruk sang mertua dengan bertengkar dan menyangkal perintah sang mertua. Akhirnya semakin lama lingling merasakan rumah tangganya bagaikan neraka yang selalu diisi dengan pertengkaran dan cekcok, sampai pada ketika lingling mempunyai pikiran ingin membunuh sang mertua dengan memberi racun. Tak lama kemudian lingling menemui tabib Chang, tabib baik hati yang merupakan sahabat baik ayahnya, setelah lingling menceritakan semua masalahnya akhirnya tabib Chang berkata “ aku paham dengan keadaanmu lingling, aku bersedia membantumu dengan memberikan sebuah ramuan racun yang mematikan, namun racun itu tidak langsung serta merta akan membunuh mertuamu, tapi butuh waktu sampai empat bulan lamanya, karena seumpama racun tersebut langsung membunuh mertuamu, aku takut semua orang akan curiga padamu, maka supaya mertuamu dan orang orang disekitarmu tidak curiga ubahlah sifatmu, bersabarlah dan sajikan makanan yang lezat dan taburi dengan racun, bersikaplah sopan, manis dan bersabarlah, aku jamin empat bulan lagi mertuamu akan masuk neraka, paham ! “ ujar tabib chang mantap, Meiling mengangguk paham, dengan senyum mengembang lingling, pulang kerumah.

Waktu berjalan mengikuti alur kehidupan yang selalu berubah, hari berganti hari, minggu berganti minggu dan bulan berganti bulan, semenjak lingling merubah sifatnya yang angkuh menjadi sopan dan manis, perlahan namun pasti akhirnya sang mertua luluh juga, dia taidak lagi menjadi pemarah, bahkan semakin lama sang mertua semakin sayangnya kepada lingling dan tak jarang lingling sering mendapatkan hadiah dari mertua. Semakin lama lingling merasa usahanya untuk meracuni sang mertua adalah salah besar, akhirnya dengan menangis lingling menemui kembali Tabib Chang untuk meminta penawar racun bagi mertua yang disayanginya itu, dengan tersenyum Tabib Chang menuturkan “ lingling, sebenarnya obat yang aku berikan padamu bukanlah racun ganas, namun justru itu adalah obat kuat bagi wanita tua, jadi selama ini kamu secara tidak langsung telah menyehatkan mertuamu, nah, sekarang berusahalah terus bersikap sopan pada mertuamu, aku yakin hidupmu akan semakin bahagia, Percayalah padaku “ ujar tabib Chang dengan bijak, legalah hati Lingling men dengar penuturannya, akhirnya hidup lingling menjadi bahagia selamanya.

****

Seringkali, kita menyampingkan masalah etika kesopanan dalam kancah pimikiran kekinian, padahal secara logis, Kesopanan (baca : Adab) merupakan salah satu pendukukung utama untuk menunjang keberhasilan dalam berkomunikasi. Diakui atau tidak, umumnya kita lebih mengutamakan sifat egoisme dalam bertindak, sehingga tidak jarang emosi angkuh masih bercokol kuat dalam diri kita, Kita tidak sadar bahwa kita sebenarnya tidak hidup sendiri dan tak akan pernah bisa hidup sendiri, karena disetiap saat dan disetiap tempat kita pasti berkomunikasi dengan orang lain. oleh karena itu sopan, merupakan salah satu cara efektif untuk merengkuh hidup bahagia dan sejahtera.

Namun ada persepsi yang salah dalam pemahaman sopan secara utuh, dalam idiom kita, kata kata sopan lebih dikonotasikan sebagai perilaku hormat atau menghargai dari strata rendah kepada tingkat yang lebih tinggi, contoh kecil, seorang santri harus berlaku sopan kepada pengurus atau kepada santri yang lebih senior. Padahal kata sopan dalam pemahaman kongkrit, lebih bersifat universal, dalam arti seluruh manusia berhak sekaligus harus punya etika kesopanan, jadi tidak hanya dari yang rendah kepada kasta yang lebih tinggi, namun juga sebaliknya, jadi apa salahnya jika pengurus pondok belaku sopan kepada santri!,

Bukankah hidup ini bagai sebuah kaca cermin, jikalau engkau tersenyum maka sicerrmin akan tersenyum padamu, namun sebaliknya jika engkau bersifat angkuh maka seketika itu juga cermin akan menunjukan sifat angkuh padamu. Begitu juga hidup ini.

AKU MASIH SANTRI

Sinar mentari terlihat menyeruak disela sela rerimbunan hutan kecil dikampungku, hawa sejuk udara pagi terasa sangat segar dan begitu alami, indahnya berbagai bentuk lukisan ilahi ini aku nikmati dengan sepuas puasnya karena mau tak mau besok aku harus sudah kembali beraktifitas sebagai santri yang taat akan peraturan, yeach….setelah seminggu lebih aku reguk kenikmatan “nafas” kebebasan alam luar yang meng-ayikkan, aku harus kembali kepesantren Lirboyo yang aku cintai, meski terasa berat namun dengan langkah mantap aku langkahkan kaki menuju kawah candradimuka sonsong masa depan penuh keindahan.

****

Tersirap darahku penuh kaget mendengar bunyi klason mobil Mikrolet yang menghampiriku, kemudian dengan dengan langkah gontai aku masuki Mikrolet desa itu, beruntung jumlah penumpangnya tak begitu banyak sehingga tak perlu berdesak desakkan untuk mencari tempat duduk sehingga lebih nyaman menikmati udara pagi dikampungku untuk yang terakhir kalinya.

Ketika aku jejakkan kakiku kedalam mikrolet, sejenak aku terpana dengan seorang wanita berambut hitam sepundak yang duduk berada diujung bangku belakang dengan muka yang menunduk, tubuh yang semampai dan baju yang agak seksi, menjadikan sosok wanita misterius itu menjadi menarik.

Ditengah-tengah perjalanan itulah tiba tiba sebuah sapaan halus menyapa aku, ternyata wanita yang aku perhatikan tadi adalah Susi, teman akrabku ketika masih dibangku sekolah dasar, dia masih secantik yang dulu, akhirnya kami ngobrol panjang lebar, namun ada satu pengakuan jujurnya yang membuat aku tersentak kaget, ternyata selama ini dia bekerja sebagai penjaja cinta alias PSK, terus terang aku miris mendengar pengkuannya, begitu polos, lugu dan menyakitkan, berawal dari peristiwa pemerkosaan yang terjadi ditahun 2000 lalu, susi disaat itu masih duduk dikelas III SMP, digilir oleh tujuh orang berandalan, pasca kejadian itu susi mengalami trauma hebat, tubuhnya menjadi kurus kering dan hidupnya manjadi tak bergairah sama sekali, suatu ketika dia didatangi seorang sahabatnya yang telah bekerja dikota, sepintas kelihatannya sahabatnya susi ini adalah wanita karier yang sukses, namun siapa sangka jika wanita tersebut ternyata hanyalah seorang penjual cinta, awalnya susi menolak ajakan temannya tersebut untuk bekerja dikota, namun setelah dibujuk terus dan diserta dengan rayuan ayuan manis akhirnya Susi menurut juga.

Alangkah kagetnya susi, ternyata pekerjaan yang dijanjikan temannya tersebut adalah penjaja cinta, susi sempat berontak namun usahanya sia-sia, berkat bujukan temannya tadi akhirnya sedikit demi sedikit mengenal dunia malam dan puncaknya susi yang kukenal dulu sebagai wanita yang alim, sholikah dan pendiam, kini telah menjadi susi yang modis, seksi dan nakal, meski kaget aku berusaha untuk bisa menahan diri agar tak terlampau emosi menghadapi keadaannya, apalagi kondisinya susi yang masih penuh dengan dendam, kucoba memberikan saran saran lunak yang tidak terkesan menggurui, bahkan terkesan memberikan suport, ternyata dia terkesima dengan saranku. Dan akhirnya dia secara halus memohon kepadaku agar mau menginap sehari saja dirumah kontrakannya, dia ingin mengobrol semalaman dan bercerita tentang kehidupannya selama ini, jangtungku lansung berdetak kencang, memikirkan perkataan susi, khayalku melayang meng-andai andai apabila semalaman aku berduaan dengan wanita secantik susi, sepertinya susi tidak main main sebab dia rela membayar seluruh tiket perjalanku padahal kami harus bolak balik naik angkutan, maklum rumah kami tergolong pelosok, bahkan dengan jujur dia akan memberikan uang “sangu” bila aku benar benar mau menginap dikontrakannya. Terus terang saat itu hilanglah tujuanku dari awal, tujuan untuk menuntut ilmu dipesantren dan tujuanku untuk beribadah kepada Allah.

Jauhnya perjalanan kami membuat aku kelelahan, akhirnya ditengah perjalanan itu ku terlelap dalam tidur, tak lama berselang diantara sadar dan tidak aku mendengarkan lantunan Sholawat yang merdu dan indah, sholawat yang begitu aku kenal ketika aku masih kecil, yaa.. sholawat Nariyah yang selalu didendangkan santri ngaji dikampung sebelah, set5elah itu tiba tiba muncul suara merdu memanggi manggil namaku dan memberikan petuah singkat namun begitu mengena, “ dien… kalau kamu berangkat mondok caranya seperti ini itu salah nak… itu salah nak…salah sekali ” sayup suara itu menghilang ditengah ruangan yang gelap tanpa sinar rasanya aku kenal dengan suara itu, yaa.. tak salah lagi pasti itu suara Abah Karim, guru ngaji yang paling kuhormati dan aku segani, sepeninggal suara tadi aku langsung terbangun dari mimpi, keringatku bercucuran dan jangtungku berdetak kencang, kupejamkan mataku sembari berkata dalam hati “ Alhamdulillah ya Allah aku masih engkau peringatkan hambamu ini “, setelah itu dengan bergegas aku mohon diri kepada susi, aku beralasan jika ada makalah pelajaran dikampus yang tertinggal dirumah teman, terang saja susi menolak keputusanku, dia beralasan jika aku tak mau bersama dengannya, kontan saja aku menolak tuduhannya, kemudian dengan sedikit memaksa susi memohon kepadaku agar mau menemaninya malam ini saja. Gengaman tangannya yang halus membuat darah ini kembali berdesir, “namun bagaimanapun juga ini adalah sebuah kesalahan “ gumanku dalam hati, selanjutnya dengan keras aku menolak ajakan susi tersebut, aku katakan dengan lirih dan jujur jika kita tak mungkin bersama apalagi sampai semalam, aku yakin kita pasti melakukan hal hal yang diluar batas, ujarku dengan tegas, kemudian dengan perlahan susi melepaskan gengaman tanganku, sesaat kemudian susana menjadi hening, sunyi dan hanya suara Bis yang menderu deru. Aku katakan kepada susi jika sebenarnya aku bukanlah seorang mahasiswa namun aku adalah seorang santri sebuah pesantren dikediri, susi nampak terkejut, kemudian dengan lelehan air mata susi meminta maaf atas tindakanya.

Nafasku aku lepaskan dengan begitu dalam, dari kejauhan kulihat bis yang membawaku semakin meghilang, ku tersenyum penuh bangga, pasalnya hari ini dengan suara ghaib abah karim aku telah berhasil mengalahkan nafsu. Terimakasih Ya Allah, terima Kasih abah. Terima kasih engkau masih mengingatkan aku kalau kau masih santri.

Tulisan ini aku pasang di Mading hidayah tahun 2006

KALA ISLAM DIUSIK DI PULAU DEWATA

Syahdan, tersebutlah dua pemuda Islam bernama Fuad dan Aziz, mereka berasal dari sebuah kota kecil dipesisir utara jawa timur, sejak tahun 2000 kedua pemuda muslim itu Hijrah kepulau Bali dan bertempat pada sebuah desa kecil disebelah utara Kabupaten Bangli Bali. Fuad dan Aziz menyewa sebuah rumah mungil yang sangat sederhana untuk dijadikan hunian sementara, padahal harga sewa rumah tersebut amatlah mahal untuk standar harga sewa rumah pada umumnya.

Berbekal kemampuan dalam ilmu masak-memasak, Fuad dan Aziz mendirikan sebuah warung yang mungil dan sederhana bernama “ Soto lamongan “. Pada awalnya warung mereka sepi tanpa pembeli, namun lambat laun kesabaran dan keuletan mereka membuahkan hasil, tiap hari ada saja orang yang makan ditempatnya, malahan ada yang sudah menjadi pelanggan tetap, Setelah satu tahun berselang mulailah warung itu menampakkan hasil, bahkan keduanya sudah mampu membeli motor.

Namun semua langsung berbalik, ketika peristiwa bom Bali I terjadi, satu persatu pelanggan mereka mulai menjauh dan tak sudi lagi makan ditempat mereka dengan alasan Fuad dan aziz beragama islam, tak pelak keadaan ini merugikan terhadap usaha yang mereka rintis, sebab banyak sekali dagangan mereka yang terbuang sia-sia karena tidak laku, kalupun ada yang beli mungkin itu hanya satu dua orang, itupun warga muslim yang ada disekitar mereka, perlahan namun pasti warung mereka akhirnya menjadi sepi tanpa pembeli, namun dengan tabah Fuad dan Aziz berusaha untuk bangkit, mereka berusaha meyakinkan kepada Publik, bahwa agama Islam tidak seextrim dan seganas yang mereka bayangkan, pada awalnya usaha Fuad dan Aziz sia sia, perlahan namun pasti usaha keras mereka mulai menampakkan hasil, warga sekitar akhirnya mulai bersahabat dan bersedia kembali menerima keberadaan Fuad dan Aziz, namun meski demikian ternyata masih ada saja pihak-pihak yang tidak menyukai kehadiran mereka, terbukti, setiap hari hinaan dan teror kerap kali mereka terima namun dengan tabah dan sabar mereka menerimanya.

Untung tak dapat diraih dan musibah tak dapat ditolak, tatkala Fuad dan Aziz mulai menikmati hasil dari jerih payah yang mereka bangun selama ini. Pertengahan bulan November 2005 tiba tiba pulau Bali diguncang oleh Bom II, meski korban yang ditimbulkan dari Bom kali ini tak sebesar Bom Bali I, namun masalahnya, dampak yang ditimbulkan dari bom tersebutlah yang cukup besar dan akhirnya sekali lagi hanya karena sipelaku bom bunuh diri tersebut beragama Islam, kemudian Masyarakat Bali langsung menvonis Fuad dan Aziz termasuk dari bagian pelaku bom, dan akhirnya kisah tragis itu terulang lagi, satu persatu para pelanggan menjauh, taksudi lagi makan diwarung yang mereka dirikan, meski tidak secara terang terangan mengatakan, warga sekitar menolak kehadiran pedangang muslim didaerah mereka, ironisnya terkadang rasa benci warga bali, disertai dengan kekerasan terhadap Fuad dan Aziz, malahan Aziz pernah dihajar massa karena nekat berjualan didepan kantor Desa, akhirnya demi menyambung hidup, mau tak mau Fuad dan Aziz, harus meninggalkan Pulau Bali, karena suasana sudah tidak lagi kondusif, akhirnya sia sialah perjuangan mereka selama ini.


Pasca peristiwa Bom bali yang meluluh lantakkan beberapa daerah dikota bali pada tahun 2002 dan tahun 2005 lalu, ternyata tidak hanya meninggalkan rasa trauma mendalam bagi warga Bali namun juga meninggalkan sebuah rasa dendam kesumat yang berbuah rasa sentimentil terhadap pemeluk agama islam, diakui atau tidak beberapa kasus yang mengemuka akhir akhir seperti kasus diatas dan juga ratusan kasus yang lain, membuktikan bahwa, penduduk Bali masih menyimpan rasa dendam terhadap agama yang dipeluk sang pengebom. Berbagi macam bentuk teror dan intimidasi kerap kali diterima kaum muslimin diBali, mulai dari boikot Ekonomi, hinaan, makian, sampai dengan pengaiayaan berat. Namun sayangnya pemerintah setempat terkesan kurang apriori dan tanggap dengan kasus yang terjadi belakangan ini, bahkan terkesan buta mata. Tragisnya rintihan dan jeritan dari para muslimin yang mengadu nasib dipulau bali ternyata tak pernah disentuh oleh Pers, kuat dugaan antara Pemerintah, pihak yang berwajib dan Pers seakan-akan bersengkongkol untuk mengusir para pendatang dari luar daerah khususnya yang beragama islam untuk hengkang dari pulau Bali. Padahal mestinya Pemerintah bersama aparat terkait berusaha bahu membahu memberikan penyuluhan kepada masyarakat Bali tentang apa itu Teroris ? dan apa itu Islam?,

Dan sudah selayaknya warga Bali sendiri bisa memahami dan mengerti tentang perbedaan Teroris dan islam, supaya untuk langkah kedepan antar pemeluk agama tidak lagi ada kesalah pahaman yang dapat berakibat konflik horizontal dan dapat menggangu stabilitas Nasional.

Semoga Islam tetap Damai.

M. Arif Noer

* Terinspirasi dari sebuah surat “ jeritan hati” dari sahabatku, Ach. Khoiron. Kintamani Bangli Bali

Tulisan ini aku pasang di mading Hidayah tahun 2005

BARSESO MILENIUM



Tulisan ini pernah aku pasang di majalah Dinding Hidayah lirboyo tahun 2006

Deru knalpot yang memekakkan telinga terdengar semakin mendekat. Dari jauh, tampak iringan pemuda bermotor tertawa terbahak-bahak di antara raungan suara motor yang menyalak. Seakan tak memperdulikan keheningan malam yang telah menghinggapi kampung kecil itu, mereka dengan lantang berteriak-teriak menantang siapapun yang mereka temui. Namun, tak satu pun warga kampung yang berani mencegah, apalagi sekedar memberi peringatan. Orang-orang kampung lebih memilih mengelus dada seraya berdo’a semoga pemuda-pemuda itu cepat sadar.

Di antara berandalan tersebut ada seorang pemuda gagah. Posturnya tinggi besar, kulitnya hitam lebam. Gaya bicaranya tak beraturan. Tangan kananya memegang botol minuman keras. Sempoyongan ia berjalan mendekati pos jaga kampung yang seolah sudah beralih fungsi menjadi markas besar para pemuda berandalan itu. Dia menyandarkan badan lusuhnya pada dinding. Dia mengomel sendirian, tanpa makna. Tak lama, Aan (nama samaran) merebahkan tubuhnya. Beberepa menit, dia telah lelap dalam tidur.

Suara adzan subuh membahana, terdengar dari surau kampung sebelah. Meski suara muadzin tak begitu merdu, rupanya dapat membuyarkan tidur Aan. Ia segera bangun. Kemudian melangkahkan kaki keluar dari pos sekedar menghirup udara segar. Saat itulah, secara tidak sengaja Aan bertemu dengan dua bocah kecil berpeci, bersarung dan memeluk kitab suci di dada. Kedua bocah itu kaget melihat Aan. Tapi keburu Aan menyapa

“Mau kemana, kalian!”

“Ngaji, Cak !. Di mushola H. Latif” jawab anak-anak itu polos.

“Ya, sudah. Berangkat sana!“

“Terima kasih, Cak” jawab anak-anak itu lagi, sambil berlari.

Sepeninggal dua bocah kecil itu, kembali Aan rebahkan tubuhnya. Keceriaan anak-anak tadi membawanya kembali kepada masa-masa kecilnya dulu. Masa bahagia bersama dengan keluarga besarnya. Saat itu, semua menyayangi, mencintai dan merperlakukan Aan istimewa. Sehingga tak jarang banyak teman-teman sebayanya jadi iri. Aan kecil tumbuh dengan cepat. Otaknya tergolong jenius. Berbagai prestasi pernah Ia raih. Bahkan Aan dulu selalu menjadi bintang kelas disekolahnya.

Waktu terus beranjak. Aan yang dulu kecil kini telah dewasa. Badannya yang putih bersih dan rupawan, membuat semua orang simpati kepadanya.

Singkat cerita, akhirnya Aan dikirimkan orangtuanya ke sebuah pesantren elit di kotanya guna mempelajari ilmu-ilmu agama. Di sinilah kecerdasan Aan semakin tampak, hanya dalam tempo dua tahun Aan sudah bisa melahap semua pelajaran yang di ajarkan. Kemampuan otak yang di atas rata-rata membuat semua Ustadz di pesantrennya bersimpati dan sayang kepada Aan. Sang Kakek pun sangat mencintainya. Saking cintanya, tak jarang semua permintaan Aan dikabulkan oleh sang kakek. Hal itu semata-mata demi kebahagiaan sang cucu.

Namun, seiring berjalannya waktu, Aan yang dulu seorang santri, dicintai dan diharapkan ilmu agamanya, kini telah berubah jauh. Bahkan sangat jauh. Aan lebih sering berkumpul dengan anggota geng-nya ketimbang bermusyawarah dengan teman-teman remaja masjid. Aan lebih konsentrasi mendengarkan bisikan dan hasutan setan ketimbang nasehat-nasehat dari guru-guru ngajinya. Aan lebih senang menenggak minuman keras daripada berpuasa Ramadlan. Dan paling parah, waktu Aan lebih banyak digunakan mencuri barang-barang orang lain daripada beramal saleh. Ringkasnya, Aan yang dulu disenangi karena keluhuran budi pekertinya, kini lebih sering dicemooh karena perbuatan kotornya

“Aaaaaah..” Aan mendesah panjang, sepanjang harapannya yang telah buyar dan tak kunjung kembali. Aan tersadar dari lamunannya. Ia menunduk, menyesali mengapa semua bisa terjadi begitu cepat. Dia bingung, mengapa dia menjadi seperti ini.

Pernah ia coba untuk kabur dari komunitasnya itu. Tapi percuma. Sebab, tangan dan mulutnya tak bisa tenang bila sehari saja tak menyentuh minuman keras dan lintingan ganja. Dia kembali menundukkan kepala. Menatap bumi yang dipijaknya. Menyesal, menyesal dan terus menyesal tanpa usaha untuk bangkit dari keterpurukan.

*****

Jangan pernah menyangka kisah di atas hanyalah rekaan penulis. Tokoh Aan dalam kisah itu adalah benar-benar nyata dan hadir dalam kehidupan kita. Aan pernah menjadi bagian dari hidup kita. Aan adalah sahabat kita yang kini tengah terjerembab dalam lobang kesesatan.

Entah bagaimana awalnya, kisah ini berlalu begitu cepat, dulu Aan (bukan nama sebenarnya) adalah sosok santri ideal yang memiliki kelebihan dalam berbagai bidang, terutama Nahwu dan Fiqh. Selain berwawasan luas, dia juga diberi anugerah wajah yang rupawan. Walhasil tak jarang Aan sering menjadi obyek Gojlokan antara teman temannya. Tapi entahlah, secara tiba tiba Aan mengubah haluan hidupnya. Aan yang kukenal sekarang dulu bukanlah Aan yang dulu.

Sepintas, meskipun dalam setting berbeda, kisah Aan memiliki kemiripan dengan legenda Kyai Barseso. Barseso merupakan representasi dari seorang Ulama Besar, punya ribuan santri, yang kemudian menjadi kufur hanya karena bujuk rayu Setan dan kroni-kroninya.

Hikmah apa yang dapat kita ambil dari kisah di muka? Hikmahnya. Posisi kita sebagai duta agama ternyata bukanlah suatu jaminan pasti bahwa kita akan terhindar dari semua bujuk rayu Setan. Sebaliknya, hanya konsitensi dan istiqomah yang dapat menjadi tameng kuat bagi keabadian iman kita. Semoga kita senantiasa dapat menjaga diri dari hal-hal yang dibenci Allah Swt. Wallahu a’lam

(TNI / Arif Noer)