SELAMAT DATANG

Assalamu'alaikum Warahmatullohi Wabarakatuh

Selamat datang para pengelana dunia maya.
Selamat datang diduniaku, dunia sederhana yang dipenuhi dengan kebebasan dalam berekspresi,
namun tetap mengedepankan Ahlaqul karimah,
tanpa takut oleh tekanan dari manapun, dan jauh dari diskrimininasi budaya, hukum, martabat, derajat dan pangkat.

Ini adalah suara murni hatiku,
yang terangkai dalam dalam bentuk kata-kata,
entah jelek entah bagus, namun inilah aku yang jujur dalam berfikir dan berkata.

Moga ada guna dan manfaatnya

Amin Amin Ya Robbal Alamin

Sabtu, 31 Desember 2016

SAAT BIDADARIKU HADIR

Anakku, aku buat catatan ini, agar engkau kelak membacanya dan mengerti proses ia hadir di dunia

02.30
Aku dibangunkan istriku karena perutnya yang sakit melilit, tulang belakang dan leher terasa sakit, aq bantu dengan pijatan pijatan ringan di punggung, Hingga ia merasa nyaman dan melanjutkan tidur.

03.30
Ia kembali bangun, kali ini ia bilang ada cairan jernih yang kental keluar, aq dan istri sama sama bingung apakah ini ketuban ataukah cairan biasa. Aq merasa ini saatnya, aq bantu meringankan dengan memberikan minuman. Air putih dan sesendok madu murni

05.01
Usai sholat subuh Aq bergegas mengantar istriku menuju ke bidan langganan keluarga, untuk melakukan pemeriksaan, setibanya di klinik Bidan tersebut awalnya pembantu bidan bilang, bahwa kemungkinan ini hanyalah keputihan biasa, namun setelah di periksa secara intensif oleh bu Bidan, ternyata istriku sudah masuk tahap Pembukaan 1. Seketika itu aq panik dan tak tau apa yang harus aku lakukan, lantas aku pamit sebentar kepada istriku, sembari mengembalikan mobil yang aku bawa, sambil mengambil keperluan persiapan melahirkan.

10.20
Setelah menunggu hampir 4 jam lamanya, tetapi tetap saja tidak ada perubahan, istriku hanya tergolek lemas, hanya sesekali merasakan nyeri di perutnya, tiba-tiba saat itu ibu mertuaku hadir memberikan Do'a restu nya, sambil beruraian Air mata, beliau mendampingi istriku

14.29
Entah ada apa ini, hingga saat ini pembukaan masih satu saja, dari alasan yg di kemukakan ibu bidan, istriku lapisan pelindung bayi telah sobek dan pecah, sehingga harus didorong keluar, sebab jika di biarkan maka akan membahayakan bagi janin bayi, entah aq manut mawon, yg jelas saat ini aq udah ga enak bersikap, Mules n mumet semua menyatu, saat itulah kakak iparku hadir, memberikan suport agar tetap bertahan, meski awalnya Bidan memberikan rekomendasi agar istriku dibawa ke Rumah Sakit, tapi akhirnya diurungkan dan bersiap melakukan persalinan secara normal. Bidan memberikan semacam obat perangsang agar memudahkan persalinan, akhirnya kontraksi semakin intens, tiap menit rasa sakit terlihat mencengkeram nya. Ta tega melihat nya.

15.30
Rintihan sakit saling bersahutan, menunjukkan betapa menderitanya ia, air mata tak henti-hentinya berkibar cucuran, jujur andaikata boleh memilih, aq sementara ingin keluar dulu, agar tak mendengar dan melihat ia begitu menderita, bukan karena aq tak peduli, namun aq tak tega melihatnya merana sedemikian rupa. Ya Allah sakit nian rupanya, apalagi ini adalah kelahiran yang pertama, tentunya rasa sakitnya amat terasa. Akhirnya meski hati terasa tercabik cabik, aq kuatkan mental dan hati untuk mendampingi nya di segala kondisi dan suasana, aq teguhkan ia agar mampu bertahan dalam perjuangan hidup dan mati

17.00
Tak tanggung-tanggung, tiga orang saudara-saudara istri ku yang membantu proses melahirkan ini, semua naik keatas ranjang persalinan, ibarat pergulatan jagoan dunia persilatan atau serial pertarungan Smack Down, semua saling berdoa sekuat tenaga, agar berjalan dengan lancar. Istriku terlihat betul-betul payah, Nafasnya tersengal-sengal dan keringat dingin terus bercucuran. Masya Allah, benar benar perjuangan hidup dan mati.

17.54
Tepat jelang adzan magrib berkumandang, Bu Bidan berkata memberikan instruksi, sedikit lagi... Ayoo.. ndak usah di tahan, tarik nafas dalam-dalam dan keluarkan semua tenaga. Dan akhirnya tepat disaat adzan Magrib berkumandang, sesosok bayi mungil yang masih tersambung ari-arinya, telah berada dalam gendongan Ibu Bidan, air mataku langsung bercucuran deras, Subhanallah, tak terkira bahagia ku disaat itu, aku cium tangan istriku sembari berucap, terimakasih sayangku... Usai di potong ari-arinya, anaku langsung ditempatkan di atas gendongan istriku, konon agar terikat batin. Aq tak mau kemesraan kedua bidadari ku ini, sambil aku lantunkan adzan di telinga kanannya dan iqomah di telinga kirinya. Masya Allah, lengkap sudah kebahagiaan ku saat ini. Istri cantik jelita dan putriku yang mempesona.

"Wahai manusia nikmat apa yang engkau ingkari dari tuhanmu, sedangkan semua nikmat berasal dan datang dari tuhanmu.."

Tidak ada komentar:

Posting Komentar