SELAMAT DATANG

Assalamu'alaikum Warahmatullohi Wabarakatuh

Selamat datang para pengelana dunia maya.
Selamat datang diduniaku, dunia sederhana yang dipenuhi dengan kebebasan dalam berekspresi,
namun tetap mengedepankan Ahlaqul karimah,
tanpa takut oleh tekanan dari manapun, dan jauh dari diskrimininasi budaya, hukum, martabat, derajat dan pangkat.

Ini adalah suara murni hatiku,
yang terangkai dalam dalam bentuk kata-kata,
entah jelek entah bagus, namun inilah aku yang jujur dalam berfikir dan berkata.

Moga ada guna dan manfaatnya

Amin Amin Ya Robbal Alamin

Minggu, 15 September 2019

AHLAN WASAHLAN SHOLEHKU

Sebenarnya banyak sekali yang ingin aku ungkap dalam tulisan ini, karena tahapan dan perjuangan kami untuk lulus dalam ujian ini sangatlah berat amat sangat berat dan panjang.

berawal dari sebuah malam di hari selasa di awal bulan Agustus, Istriku yang sedang hamil di bulan ke 6, tiba-tiba mengeluh karena mengeluarkan cairan yang bewarna putih bening, rasa kawatir dan takut membaur menjadi satu, karena menurut perhitungan Bidan, kehamilan ini terlalu dini dan awal, sehingga sangat beresiko. 

Tak mau mengambil pusing akhirnya saya bawa istri dan anak semata wayang kami menuju Ibu Bidan Dsa yang tak jauh jaraknya, namung sayang setelah kami ketuk pintunya berulang-ulang, pintunya tak juga dibuka.

akhirnya kami memutuskan untuk pergi ke rumah Bida DEsa sebelah yang kebetulan menjadi langganan kami berkonsultasi, hawa dingin yang menerjang dan pekatnya malam tak kami hiraukan demi keselamatan istri dan janin yang dikandungnya, Alhamdulillah setelah kami sampai di kediaman sang bidan, beliau sudah siap sedia karena sedang menangani ibu ibu yang sedang melahirkan, namun sayang, jawabannya tidak begitu membahagiakan kami.

Dengan usia kandungan yang sangat terlalu muda, bu Bidan tidak mau berandai andai, beliau memberikan rekomendasi agar segera menuju Rumah Sakit agar segera di periksa secara intensif dan maksimal. akhirnya kami segera menuju Rumah sakit untuk mendapatkan pengobatan secara maksimal. kami memilih RSI Gondanglegi sebagai pilihan pertama, Selama tiga hari Istri saya tercinta di rawat secara Intensif di ruang perawatan Ibu Meahirkan, namun sayang jawaban yang tak kami harapkan kembali hadir, Prediksi Bu Dokter yang melakukan USG mengatakan bahwa Air ketuban IBu terlalu banyak yang keluar sehingga membahayakan bagi janin, sehingga Ibu harus istirahat total hingga bayi mencapai berat badan yang ideal dan siap untuk dilahirkan. JikaTidak, janin tidak tertolong atau lahir dalam keadaan yang tidak diinginkan, lunglai rasanya mendengar penjelasan itu. 

Setelah itu, Istriku betul betul Istirahat total, apapun yang menjadi tugasnya aku yang melakukan, hingga buang air kecil sekalipun aku yang membantu, semata mata agar ia bisa istirahat. 

Hampir sebulan lamanya Istriku beristirahat secara penuh, hingga pada suatu malam, ketuban yang selama ini ia tahan ternyata keluar kembali, rasa takut kembali mengemuka, akhirnya kami sepakat untuk berobat kembali ke Rumah Sakit yang lebih besar dan perawatan yang lebih maksimal, pilihan kami jatuh pada RSUD Kepanjen Malang. 

Rasa trenyuh dan kasihan pada kondisi istriku kembali hadir, belum genap satu bulan pergelangan tangannya lepas dari jarum Infus, kembali dihari ini akan di masukan, namun dengan santai dan tegar ia hadapi semua itu dan sesekali tersenyum menenangkan saya. Meski saya tahu ia dalam kondisi Yang sangat terpuruk.

Tiga hari lamanya ia terbaring di ruang perawatan ibu hamil dan melahirkan, dan selama itu pula, rasa cinta dan sayang kami seakan terpupuk kembali, saya semakin mencintai istriku, disaat saat yang kurang menyenangkan. Usai mendapatkan perawatan intensif selama tiga hari, istriku di perkenankan pulang. Sebuah moment bersejarah saya saksikan pada saat istriku di rawat di Rumah Sakit, Ibu mertuaku datang nyambang anak tersayangnya, disaat pertama kali bersua, keduanya berpelukan dengan erat, kasih sayang yang selama ini tertahan mereka luapkan bersama, air mata ini tak mampu bertahan hingga beberapa butir air mata menetes perlahan di pipiku, aq beranjak pergi, agar tidak mengganggu kesakralan silaturahim antara Istriku dan ibu mertua.

Dihari terakhir perawatan istriku dites secara intensif melalui USG di ruang khusus, dalam pemeriksaan tersebut, dilihat secara visual kondisi janin, dan diakhir pemeriksaan tersebut, dokter spesialis kandungan itu berujar jika secara fisik anakq belum siap, baik segi berat badan maupun yang lainnya, namun jika dilihat dari detak jantung nya, ia sangat sehat. Namun saran dari dokter sebisa mungkin janin ini dipertahankan dengan Bed rest total, harus dengan istirahat penuh, tidak boleh beraktifitas apapun.... Iya apapun... 

Akhirnya setelah berkemas dan mendapat izin dokter yang selama ini merawat, istriku diizinkan untuk pulang, tapi atas saran ibu mertua, istriku diminta untuk perawatan di rumah Singosari saja, tapi itu jika Aku memberikan ridlo atau izin, aku tersentak hingga sebegitu hurmatnya ibu mertuaku kepada menantunya, hingga untuk urusan izin merawat putri kandungnya harus mendapat ridlonya, aku meng iyakan saran ibu, karena dengan perawatan dari ibu, maka aku jadi lebih tenang, karena secara fisik mauoun psikologis, istriku jagung bisa istirahat. Dan akhirnya istriku akhirnya di jemput kakaknya untuk pulang ke Singosari, dari kejauhan mataku berkaca-kaca, merasa bersalah dan berdosa tak mampu menjaga dan melayaninya, hingga disaat membutuhkan kasih sayang seperti ini aku tak mampu melayaninya. 

Setelah istriku di jemput oleh keluarganya, aku beraktifitas sebagaimana biasa, karena setumpuk pekerjaanku tidak mungkin aku tanggalkan begitu saja, akhirnya untuk mensiasatinya, setiap hari hingga larut malam semua tugas aku selesaikan agar di hari kamis dan Minggu aku bisa bersua dengan anak dan istriku. 

Suatu malam di hari Jumat akhir bulan Agustus, disaat aku sedang rapat dengan panitia pembangunan kantor NU, tiba tiba teleponku berdering mengabarkan saat ini istri sedang dirawat di RS. Prima Husada Singosari, Jlegh... Hatiku berdetak kencang apakah sudah waktu ia melahirkan, akhirnya tanpa ba-bi-bu, di pagi buta sebelum adzan subuh berkumandang, aku susul ia di Rumah Sakit, terlihat wajah sumringah dan ceria istriku saat melihat kedatanganku, akhirnya ia tumpahkan semua keluh kesah dan semua perasaannya kepadaku, ia berujar Nyuwun ngapunten nggih Mas, nggih jawabku perlahan. Tiga hari juga ia beristirahat di Ruang perawatan ibu ibu hamil tersebut, hingga di hari general cek up dengan menggunakan USG, dokter mengkhawatirkan jumlah air ketuban yang semakin menipis, karena bisa membahayakan ibu dan juga janin d kandungannya, dokter meyakinkan kami bahwa kondisi janin dalam kondisi normal, namun dljika dilihat dari usia kehamilan sebenarnya ia masih sangat muda yaitu 7 bulan, namun mempertimbangkan air ketuban yang menipis maka di sarankan untuk dilahirkan meski prematur. 
Namun untuk sementara waktu istriku dipersilahkan untuk istirahat terlebih dahulu, jika sewaktu-waktu air ketubannya mrembes lagi maka disarankan untuk periksa dan jika dimungkinkan agar segera dilahirkan.

Dengan perasaan gontai dan tak menentu, akhirnya istriku kembali pulang kerumah ibu mertua, masih sama dengan hasil pemeriksaan dua rumah sakit sebelumnya, namun rumah sakit yang terakhir ini memberikan sedikit pencerahan dan positif thinking, sedikit tenang rasannya dan akhirnya seperti yang sudah sudah, istriku harus beristirahat dengan total, seharian ia Hanya tidur dan tidur, tidak boleh beraktifitas apapun, ada sebuah dialog yang cukup membuatku iba pada istriku, selama kami menikah, belum pernah rasanya aku di sambati sampe menangis seperti itu, karena ia bukan tipikal wanita cengeng dan gampang sambat, dengan lugas istriku curhat melalui WA kalo ia membutuhkan kehadiranku, membutuhkan doronganku sebagai suami, tolong tinggalkan semua kegiatan dirumah untuk mendampingi nya, ia sangat kesepian meski banyak orang disekitarnya, tersentak dan merasa bersalah aku kepadanya, dan dengan tekat kuat aku mengajukan permohonan izin untuk semua jenis kegiatan mulai sekolah, NU, kegiatan penyuluh dan lain sebagainya. 

Akhirnya hari itu tiba, di hari Rabu pagi awal bulan September 2019 air ketuban yang selama ini di tahan agar tidak keluar dari rahim istriku sepertinya tak mampu ia tahan, banyak air ketuban yang keluar, dan akhirnya dengan tekat kuat dan restu ibu ku dan ibu mertua kami yakinkan untuk melahirkan bayi yang ada didalam rahim istriku, dengan segala resiko yang ada, ya segala resiko yang ada. Dan setelah melalui pemeriksaan yang berkala dan intensif, dokter memberikan rekomendasi dan izin untuk melahirkan bayi kami, 

Gontai dan kacau perasaan kami, hingga mulutku tak pernah lepas dari bacaan Sholawat, karena inilah akhir dari semua ujian yang sedang kami alami ini, selama sebulan lebih perasaan kamu seperti terombang ambing, disiksa oleh ketidak pastian. Dan setelah mendapatkan beberapa obat perangsang untuk ibu yang melahirkan, istriku mulai merasakan kontraksi, mulai jam 4 sore hingga jam 7 malam ia sesekali merasakan sakit yang luar biasa hingga akhirnya pada pukul 8 malam ia seperti merasakan rasa sakit yang hebat, aku yakinkan agar sabar dan tenang, karena prediksi perawat bayi akan lahir sekitar tengah malam, namun istriku mengatakan jika ia tak mampu menahan, dengan cepat aku panggil perawat jaga dan bilang kondisi istriku yang sedang kesakitan hebat, ketika aku dan perawat tiba, kami d kejutkan dengan kondisi sang bayi yang hampir keluar, terlihat istriku yang sedang mengejang dan kesakitan yang luar biasa, dan alhamdulillaaah....
Seorang bayi keluar dengan proses yang normal sangat normal sekaligus sangat cepat, setelah anakku bisa terlahir dengan normal, dengan lirih aku berujar pada perawat, laki laki apa perempuan Bu?... Alhamdulillah laki laki pak...
Alhamdulillaaaaaahhhh.... Pekik ku... 
Subhanallah, walhamdulillah Wallahu Akbar...
Selamat datang anakq...
MUHAMMAD AL FALAH NAWAWI


Tidak ada komentar:

Posting Komentar